Wednesday, January 9, 2008

Embryo Manusia: Suatu Ras Baru?


Ada satu kejadian menarik. Pada zaman penemuan dunia baru, yakni benua Amerika di sekitar zaman Christopher Columbus para pendatang baru untuk pertama kalinya bertemu dengan penduduk asli yang, dengan kesalahpahaman mereka sebut sebagai Indians. Para Indian ini memiliki budaya yang jauh berbeda, tingkah laku, bahasa, warna kulit, dan struktur wajah yang berbeda dengan para Europeans-Caucasians waktu itu. Mereka kemudian menjajah dan memperbudak para Indian itu.

Lucunya, sambil memperbudak sesamanya manusia, para Caucasians itu melontarkan suatu pertanyaan konyol, “Are those Indians human beings?” Pertanyaan konyol ini kemudian berkembang menjadi debat filosofis-teologis berkepanjangan, bahkan sampai menimbulkan perseteruan sengit. Akhirnya, Paus Pius III, dengan bulla Sublimis Deus (1537), menentang keras perbudakan para Indian itu dan menyatakan dengan tegas bahwa “the Indians themselves indeed are true men.” Bulla ini menghentikan perdebatan dan berangsur-angsur namun pasti mengurangi perbudakan.

Dunia berkembang pesat, abad demi abad berlalu. Zaman teknologi super canggih menguasai dunia. Dunia mikroskopis yang dahulu menjadi rahasia besar bagi manusia menjadi suatu dunia tour yang menarik bagi para ilmuwan. Mereka menjelajah tanpa kenal lelah dunia mikro ini. Suatu waktu mereka berhasil menemukan ovum dan sperma, kemudian mereka mengerti proses pembuahan dan perkembangan embryo. Saat itulah mereka dikejutkan oleh rupa embryo manusia dan melontarkan pertanyaan konyol namun politis, “Apakah embryo ini manusia?”

Inilah pertanyaan dasar yang menjadi debat dalam dunia bio-ethics, khususnya dalam problem cloning dan human embryonic stem-cell research (hES-cell). Beberapa hari yang lalu konggres Amerika sudah menyetujui kembali embryonic stem-cell research yang sempat ditunda penyelesaian masalahnya. Dana federal mengucur untuk “proyek kemanusiaan” ini. Beberapa waktu sebelum konggres Amerika menyetujui embryonic stem-cell research, para ahli di Korea dari Seoul National University dalam kerjasamanya dengan para ahli dari University of Pittsburg School of Medicine mengumumkan keberhasilannya memproduksi sebelas human embryonic stem-cells (sel batang embryonik manusia).

Mengapa hES-cell research ini menarik sangat perhatian publik? Ini karena hES-cell research menjanjikan suatu bentuk “obat” baru, yakni regenerative medicine (cf. Ed. Suzanne Holland et al., The Human Embryonic Stem Cell Debate, 2002). Obat ini bukan menyembuhkan penyakit dari luar dengan bahan kimia, tapi dari “dalam” yakni dengan menggantikan sel-sel yang rusak. Misalnya, diabetes, yang adalah penyakit karena rusaknya sel-sel pankreas, bisa disembuhkan dengan menanamkan dan menumbuhkan sel-sel pankreas baru dari hES-cells untuk mengganti sel yang rusak itu. hES-cell, menurut teori, bisa dikembangkan menjadi berbagai macam jenis sel-sel manusia. Menurut teori pula, sel-sel inilah yang akan “dikembangbiakkan” untuk mensuplai kebutuhkan regenerative medicine yang spektakuler itu. Inilah janji kesembuhan yang diiklankan pada publik sebagai proyek kemanusiaan.

Lalu apa masalahnya hES-cell research? Masalahnya mereka menggunakan dan menghancurkan embryo manusia. Dengan istilah teknis-rumit yang membuat para awam dunia mikrobiologi tidak mengerti, seperti: zygote, blastocyst, morula, para ahli tersebut mencoba meyakinkan publik untuk melegitimasi dan mendanai karya mereka. Mereka hanya berargumen bahwa blastocyst itu hanyalah sekumpulan sel (a cluster of cells). Oleh karena itu blastocyst ini bisa dibedah (dihancurkan) untuk diambil stem-cells-nya. Untuk kepentingan research yang dengan jelas banyak terjadi trials and errors, ribuan blastocysts akan menjadi korban penghancuran. Padahal blastocyst adalah nama lain dari embryo manusia yang sedang berkembang dalam usia lima hari. Benarkah bahwa blastocyst itu hanya sekumpulan sel? Ataukah para ahli itu sedang melontarkan kembali pertanyaan dasar di atas, “Apakah embryo itu manusia?” Pertanyaan ini sama dengan pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah bayi itu manusia? Apakah orang cacat mental itu manusia? Apakah orang tua renta itu manusia? Apakah orang koma itu manusia?

Kita sering terjebak dengan appearances dalam mengkategorikan sesama kita sebagai manusia ataupun bukan. Ini sama sekali tidak tepat. Manusia itu berkembang dan berubah dalam penampilannya. Dalam systems biology, manusia tumbuh dan berkembang mulai dari tahap molekuler-embryonik sampai dengan saat kematiannya (cf. N.P.G. Austriaco, O.P., On Static Eggs and Dynamic Embryos: A Systems Perspective, NCBQ 2002). Jadi zygote atau embryo atau apapun bentuk dan namanya (termasuk blastocyst) adalah manusia. “Sejak pembuahan kehidupan manusia baru sudah dimulai,” kalimat ini mengawali penjelasan detail embryologi dari Keith L. Moore & T.V.N. Persaud, The Developing Human: Clinically Oriented Embryology, 1998. Jadi embryo adalah manusia. Manusia yang memiliki hak hidup yang sama dengan kita. Manusia yang sudah bertumbuhkembang dalam tahap tertentu.

Di sisi lain, jika para ahli itu demi ilmunya tetap berpendapat bahwa embryo dalam usia lima hari (blastocyst) adalah bukan manusia dan hanya sekumpulan sel; maka di sini kita mengalami kerancuan logika yang sangat parah! Sains sudah mulai mencoba meredefinisi eksistensi kita sebagai manusia. Apakah dari sesuatu yang bukan manusia akan menjadi manusia? Tidak mungkin. Tidak mungkin kita menanam anggur yang keluar adalah durian. Kucing tidak mungkin menjadi dinosaurus. Apa yang bukan manusia tidak bisa menjadi manusia dalam perkembangannya. Embryo manusia adalah manusia dalam tahap awal perkembangannya dan akan berkembang menjadi manusia, seperti kita.
Dalam dunia etika ada prinsip penting: ends do not justify the means. Tujuan tidak menghalalkan segala cara. Kita tidak bisa membunuh dan mengambil jantung orang hidup dan sehat, untuk menggantikan jantung saudara kita yang sudah rusak fungsinya. Dengan berdasarkan prinsip ini, kita tidak dapat menyembuhkan penyakit manusia dengan janji regenerative medicine dari hES-cells dengan mengorbankan manusia yang lain, dalam hal ini masih berupa embryo. Embryo bukanlah ras baru yang patut kita curigai keberadaannya sebagai manusia. Kita tidak patut melontarkan pertanyaan yang tidak bijak seperti yang dilontarkan oleh para penemu benua Amerika ratusan tahun yang lalu. Embryo adalah sesama kita. Embryo mempunyai hak hidup yang sama dengan kita. Kehidupan manusia baru dalam rupa embryo di dalam rahim patutlah kita sambut dengan hormat dan gembira. Sains adalah untuk manusia. Manusia tidak bisa dikorbankan begitu saja dengan brutal di altar sains. Jika kita gagal menghormati martabat manusia dalam rupa embryo, kita juga pasti akan mengalami kegagalan besar dalam menghormati martabat orang lain yang setiap hari berhadapan dengan kita. Semoga tidak.

Benny Phang O.Carm

No comments: