Wednesday, January 9, 2008

Merekayasa Generasi Penerus


Kita memasuki zaman baru dalam genetika. Manusia modern sudah enggan berpegang pada prinsip-prinsip klasik, dan mencoba mencari terobosan baru hanya untuk sekedar mendekonstruksi prinsip-prinsip lama yang dianggap sudah basi. Kenyataannya menjadi lebih mengerikan lagi ketika dekonstruksi ini menjarah masuk ke bidang-bidang kehidupan manusia. Makna hidup manusia telah dan sedang mengalami dekonstruksi. Manusia dipandang tidak lebih dari sekedar produk yang bisa dimanipulasi.

Dalam konteks Indonesia, kita terbuai dengan perjuangan keadilan sosial, lebih-lebih option for the poor. Pembahasan tentang makna kehidupan manusia dalam etika bio-medis dianggap suatu bidang studi yang di atas awang-awang dan jauh dari kenyataan hidup. Benarkah demikian? Benarkah bahwa diskusi dan wacana tentang makna hidup manusia tidak ada sangkut pautnya dengan perjuangan keadilan sosial? Saya kira tidak! Justru ketika kita mencermati masalah-masalah biomedis, di sana banyak ketidakadilan sosial yang harus kita tanggapi. Seringkali masalah ketidakadilan sosial dalam dunia biomedis terbungkus oleh packaging yang manis dan cantik, tidak setelanjang kenyataan kemiskinan misalnya. Akan tetapi dampaknya adalah bahwa lagi-lagi orang miskinlah yang menjadi tertindas. Jangan-jangan kita gagap untuk menanggapinya, karena kurang tanggap.

A. Rekayasa Genetika dan Amniocentesis
Berbicara mengenai merekayasa generasi penerus tidak akan lepas dari dua hal yang melatarbelakanginya yakni: rekayasa genetika dan amniocentesis. Rekayasa genetika lebih berorientasi pada memproduksi generasi penerus sesuai dengan desain tertentu, sedangkan amniocentesis lebih berorientasi pada memilah-milah mana generasi penerus yang dianggap layak hidup, mana yang tidak.


Rekayasa Genetika
Teknologi IVF (in vitro fertilization) sudah mencapai tahap yang canggih. Teknologi fertilisasi yang semula digunakan untuk membantu pasangan tak subur untuk memperoleh anak, kini mulai dilirik dan dirayu oleh kemajuan teknologi rekayasa genetika.
Rekayasa genetika sendiri telah sukses pada tanaman dan hewan. Apa yang beberapa tahun lalu merupakan pembicaraan kaum elit ilmuwan, sekarang sudah dapat dijumpai pada pasar-pasar tradisional sekalipun. Semangka tak berbiji, misalnya, merupakan hasil rekayasa genetika yang dapat kita nikmati di dalam nasi kotak kita. Ayam kampung yang dahulu adalah ayam yang diperjualbelikan umum, sekarang malah menjadi barang mahal jika dibandingkan dengan ayam hasil rekayasa genetika yang cepat besar, berdaging banyak, dan empuk. Kentucky Fried Chicken atau MacDonald Fried Chicken sudah menjadi kesukaan dan gaya hidup kita, ayam yang dipakai bukan ayam kampung, tapi ayam hasil rekayasa genetika.

Kini di balik layar, di laboratorium-laboratorium resmi, dan lebih-lebih yang tak resmi, rekayasa genetika sudah merambah ke hidup manusia. Perkembangannya perlahan namun pasti. Tentu saja setiap kemajuan teknologi selalu berdampak positif dan negatif, namun seringkali dampak positif kemajuan itu yang diledakkan untuk dipasarkan, sedangkan dampak negatif yang signifikan seringkali malah ditutup-tutupi, atau bahkan tidak pernah dibicarakan sama sekali. Di sisi lain, pasar seringkali dilanda euforia akan penemuan yang baru tanpa mau peduli akan dampak negatif yang sedang menunggunya seiring dengan berjalannya waktu.

Maxwell J. Mehlman, seorang bioethicist dari Amerika Serikat, menyebut bahwa kemajuan teknologi genetika melahirkan suatu revolusi dalam masyarakat. Mehlman menyebutkan lima revolusi itu: revolusi dalam bidang genetika forensik, revolusi dalam bidang informasi genetika, revolusi terapis, revolusi dalam genetika behavioris, dan revolusi dalam peningkatan mutu genetik dengan berlebihan (genetic enhancement). Mehlman menyebutkan bahwa revolusi dalam peningkatan mutu genetik ini sebagai the fifth revolution, karena revolusi di bidang ini akan menjadi sangat riskan dan mengkhawatirkan untuk masa depan umat manusia.

Kaum konservatif cenderung memandang revolusi ke lima ini hanya sebagai science fiction. Mereka menganggap bahwa hal itu masih lama terjadi, apalagi dalam konteks Indonesia. Argumen saya sederhana, lima belas tahun yang lalu di Indonesia telepon selular adalah semacam science fiction yang hanya bisa dilihat di film-film Hollywood dan dimiliki orang-orang Amerika tertentu. Sekarang tukang sayurpun menjajakan dagangannya melalui telepon selular.

Revolusi genetic enhancement ini bisa menjadi amat mengerikan. Teknologi IVF memungkinkan adanya rekayasa genetika lebih lanjut. Embryo “sisa-sisa” proses IVF yang dibekukan digunakan untuk eksperimen-eksperimen rekayasa genetika. Mungkin institusi-institusi resmi dilarang mempraktekkan eksperimen yang menggunakan subyek manusia ini, tapi klinik-klinik atau laboratorium-laboratorium pribadi yang bekerja tersembunyi tersebar di mana-mana.

Beberapa atlit, misalnya, menggunakan bahan yang disebut erythropoeitin (EPO) untuk menghembus kekuatan dan stamina mereka. Sebagai follow up, beberapa waktu yang lalu, para ilmuwan mulai merekayasa EPO sintetik yang menggunakan teknik penggabungan DNA. Teknologi ini kemudian bisa digunakan untuk merancang seorang bayi untuk lahir dengan kemampuan atletik yang tangguh. Contoh lain adalah hormon pertumbuhan manusia (Human Growth Hormone/HGH) yang diambil dari kelenjar pituitari mayat untuk menyembuhkan kasus kekerdilan (dwarfism). Sekarang para ilmuwan sudah membuat tiruan sintetik hormon itu dengan menggunakan teknik rekayasa genetika yang sama. Tujuannya nanti bukan untuk menyembuhkan dwarfisme, tapi hanya untuk sekedar menaikkan mutu tinggi seorang anak, misalnya: menjadi setinggi pemain bola basket terkenal. Pemilihan jenis kelamin anak juga dapat dilakukan dengan “mudah,” yakni dengan menyaring sperma yang membawa kromosom X atau Y. Jenis kelamin anak ditentukan sebelum implantasi. Teknologi ini akan laris di India atau Cina dimana anak perempuan hanya dipandang sebagai beban ekonomis bagi keluarga.

Rekayasa genetika ini bisa berlanjut ke hal lain, misalnya untuk menggelembungkan kegeniusan intelegensia dengan dilahirkannya para Mozart, Einstein, atau Faraday baru. Atau hanya sekedar cosmetic enhancement dengan melahirkan para Ratu Cleopatra, Brad Pitt, atau Celine Dion baru. Ini semua diterapkan pada calon anak yang dikandung sesuai dengan keinginan orang tuanya.
Dampak negatif dari rekayasa genetika ini bisa berkembang pada, misalnya perdagangan sperma atau ovum. Sperma dan ovum dari kaum genius atau selebritis menjadi komoditas yang mendatangkan keuntungan besar sepihak. Pernah dilaporkan penyimpangan-penyimpangan yang menyertai teknologi rekayasa genetika: “seorang ahli IVF menggunakan spermanya sendiri tanpa sepengetahuan pasangan yang dilayaninya, seorang wanita di Afrika Selatan hamil dengan teknik IVF dari ovum anaknya dan sperma dari menantunya, seorang feminis di California memiliki bank sperma dan menyuplai kaum lesbian, di negara bagian yang sama ini ada bank yang menyimpan sperma dari para pemenang Nobel, dan seorang lelaki menuntut agar embryo beku yang disimpan dari hasil IVF dengan mantan istrinya itu dihancurkan.”

Jadi produk super baby dengan risiko-risiko mengerikannya yang dua puluh tahun yang lalu hanya sekedar science fiction yang digambar di komik-komik, kini sedang dalam tahap penyempurnaannya untuk kemudian dijual bebas di pasar. Ini semua bukan science fiction. Dan ini semua hanya sekedar ringkasan singkat dari ribuan detail perkembangan teknologi rekayasa genetika untuk merancang dan merekayasa generasi penerus kita.

Amniocentesis
Sekarang kita melihat fetus yang dikandung “secara normal” melalui hubungan seksual suami istri. Fetus yang hidup dan berkembang dalam kandungan dikelilingi oleh membran amnion (selaput ari-ari). Di dalamnya terdapat cairan amniotik (air ketuban) yang berfungsi untuk sebagai peredam benturan dan oleh karenanya melindungi fetus. Sebelumnya apa yang terjadi di dalam kandungan merupakan misteri yang hanya dapat dipandang manusia secara mengagumkan. Namun seiring dengan kemajuan teknologi kedokteran, apa yang dahulu adalah suatu rahasia besar menjadi sesuatu yang bisa dilihat dan bisa dianalisa. Amniocentesis adalah salah satu dari perkembangan teknologi dunia medis itu.

Amniocentesis adalah suatu prosedur diagnosa prenatal di mana jarum panjang digunakan untuk mendapatkan cairan amniotik dari dalam kandungan. Cairan ini dapat digunakan untuk uji genetik atau diagnosa yang lain. Amniocentesis dilakukan pada fetus yang berumur enam belas sampai dua puluh minggu. Keith L. Moore dan T.V.N. Persaud, dua orang ahli anatomi dan biologi sel, amniocentesis disebut sebagai prosedur pemeriksaan fetus yang paling invasif. Hal ini dikarenakan selain menembus amnion, ternyata jarum juga menembus chorion. Ada 200 ml cairan amnion, dalam proses amniocentesis cairan yang diambil berkisar antara 20-30 ml. Moore dan Persaud menyatakan prosedur ini relatif aman jika dilakukan oleh tangan dokter yang berpengalaman pula menggunakan ultrasonogram. Mula-mula amniocentesis hanya merupakan tindakan experimental di laboratorium, tetapi dalam tahun 1990-an (di USA), amnicentesis menjadi program standart, yakni tindakan rutin yang diambil dalam pemeriksaan kehamilan. Dari interview lisan-informal pada beberapa orang ibu muda, di Indonesia praktek ini mulai dikenakan pada ibu-ibu hamil, kemungkinan besar tanpa penjelasan lebih lanjut pada mereka, mengingat kondisi peraturan dan hukum yang tidak pasti dan jelas.

Seperti telah disebutkan di atas, amniocentesis bertujuan untuk diagnosa genetik fetus yang dikandung. Diagnosa ini mendeteksi keabnormalan kromosom yang biasa disebut Downs Syndrome, atau ratusan penyakit genetik yang lain semacam sicle-cell anemia, penyakit Tay Sachs, atau kelainan syaraf semacam hydrochepalus dan spina bifida.

Dalam usia dua puluh minggu panjangnya sekitar 19 cm, dan sudah berbentuk manusia kecil yang lengkap. Ini adalah juga salah satu sebab mengapa cairan amnion diambil pada waktu fetus sudah berusia cukup matang, yakni supaya dapat mendeteksi komposisi genetik fetus dengan tepat. Jika didapati pribadi-pribadi kecil ini abnormal secara kromosomal, genetik, maupun neural, maka cara paling efektif yang dianjurkan dan biasanya diambil oleh seorang dokter (mungkin bersama orang tua si fetus) adalah aborsi. Secara sosial, aborsi yang preventif menghalangi kelahiran anak-anak yang cacat ini adalah aborsi yang paling bisa diterima. Di Amerika Serikat, lebih dari 80% penduduk menyetujui aborsi dalam situasi seperti ini. Maka dari itu, Rothman dengan berani menyebut kehamilan di masa di mana amniocentesis menjadi prosedur standart sebagai kehamilan tentatif (tentative pregnancy). Ini adalah suatu kehamilan yang dicoba-coba, jika apa yang dikandung baik maka kehamilan akan diteruskan, jika yang dikandung tidak memenuhi syarat, maka kehamilan akan dihentikan. Ini karena bayi yang dikandung tidak sesuai dengan desain yang kita terapkan padanya.

B. “Keutamaan” Belas Kasih dan Kompromi
Gilbert Meilaender, seorang ahli etika yang terkenal di Amerika, melihat kenyataan manusia modern yang mau merancang keturunannya sesuai dengan kehendaknya sebagai dipengaruhi oleh keutamaan belas kasih (compassion) dan kompromi (consent). Keutamaan belas kasih yang palsu menggerakkan kita untuk melenyapkan segala macam penderitaan sebisa mungkin, dan dengan keutamaan kompromi, yakni menuntut agar tindakan belas kasih kita ini diprivatkan.

Keutamaan belas kasih melahirkan keinginan untuk merancang generasi penerusku yang bukan dalam taraf biasa-biasa saja, tapi dalam kualitas yang lebih. Maka genetic enhancement untuk mensuplai generasi penerusku dengan berbagai kualitas genetis unggul harus dilakukan. Kasihan kalau prestasi hidupnya biasa-biasa saja.

Dari belas kasih ini pula manusia modern cepat merasa “kasihan” kepada generasi penerusnya yang dianggap tidak kompeten untuk meneruskan dirinya. Jika ditemui bahwa generasi penerus itu cacat secara fisik maupun mental melalui amniocentesis, maka lebih baik kehidupan generasi penerus itu dihentikan sesegera mungkin. Daripada generasi penerus itu menderita dalam penyakitnya atau kondisi fisiknya yang tidak sempurna, maka dengan penuh belas kasihan lebih baik generasi penerus itu tidak usah dilahirkan. Apakah secara sarkartis ini boleh disebut pembunuhan ras yang abnormal? Apa kemudian standart kenormalan? Ternyata keutamaan belas kasih manusia modern ini melahirkan sikap rasis dan berujung pada eliminasi kehidupan.

Sikap belas kasih ini tidak bisa begitu saja diekspos ke masyarakat luas. Maka mesti ada kompromi-kompromi tertentu sehingga sikap dan keputusan yang aku lakukan ini melulu karena keputusan pribadiku dan urusanku, tidak ada sangkut-pautnya dengan orang lain. Bahwa aku melakukan screen and abort generasi penerus yang kuinginkan atau yang tidak kuinginkan itu bukan urusan orang banyak, itu urusanku yang mengatur kelanjutan keturunanku.

Inilah kedua “keutamaan” manusia-manusia modern yang melatarbelakangi rekayasa genetika dan amniocentesis yang bertujuan untuk mendesain generasi penerus. Penilaian moral yang kritis akan mampu membuat kita menyimpulkan bahwa kedua keutamaan ini per excessum dan per defectum adalah keutamaan palsu (false virtues).


C. Manusia sebagai Produk
Rothman, peneliti dampak amniocentesis, ketika mewawancari para ibu hamil yang mengalami amniocentesis menyimpulkan suatu sikap yang muncul ketika prosedur screen and abort itu menjadi hal yang normal. Seorang ibu atau orang tua dapat berkata pada manusia yang dikandungnya demikian, “Semua ini adalah standartku. Jika engkau memenuhi standart ini, engkau adalah milikku dan aku akan mencintai engkau dan menerimamu secara total. Tapi setelah engkau melewati penelitian ini.” Cinta dan penerimaan orang tua kepada anak yang menjadi generasi penerusnya sarat diwarnai syarat kualitas tertentu. Jika syarat atau desain ini tidak dipenuhi maka anak lebih baik dibuang.

Coba bandingkan dengan sistem ekonomi yang berorientasi pada menaikkan mutu produk. Jika kualitas barang produksi tidak tinggi, maka ia tidak laku di pasar. Jika tidak laku di pasar, maka produk itu lebih baik dibuang saja. Tidak ada bedanya antara orang tua sikap terhadap barang produksi dan kepada seorang anak. Generasi penerus adalah suatu produk yang harus disiapkan dengan baik sesuai desain orang tua. Jika tidak maka dia akan kalah dalam persaingan. Maka segala cara harus ditempuh untuk menaikkan kualitas generasi penerus. Mereka harus dirancang sedemikian rupa melalui screen and abort maupun rekayasa genetika. Yang satu membuang produk generasi penerus yang jelek, yang lain meningkatkan kualitasnya. Manusia menjadi produk dari manusia lain, manusia tidak lagi ditemui sebagai seorang pribadi yang sejajar, sebagai seorang sesama, tetapi sebagai produk yang bisa digunakan atau tidak digunakan semau pengguna produk itu. Ironisnya, sang orangtualah yang pertama-tama menjadi produsen utama.

D. Prinsip Primum Non Nocere
Salah satu prinsip penting dalam etika biomedis adalah prinsip “tidak melakukan kejahatan” (nonmaleficence). Prinsip ini menandaskan suatu “kewajiban untuk tidak melukai orang lain.” Prinsip biomedis ini berhubungan erat dengan suatu axiom lama dari Hipokrates, yakni: “Primum Non Nocere” (pertama-tama jangan melukai). PNN adalah kewajiban utama dokter untuk tidak bertindak, dimana apa yang dilakukannya kemungkinan dapat melukai hidup norma dan sehat. Aksiom ini seringkali disebut dengan Sumpah Hipokratis. Suatu sumpah yang harus diucapkan oleh seorang dokter dari zaman Hipokrates sampai sekarang, namun yang seringkali dilanggar.

Prinsip primum non nocere (PNN) ini, sekali lagi, mau menandaskan bahwa jangan mengundang luka atau mengambil risiko melukai kehidupan yang sehat. Tugas seorang medicus atau dokter adalah untuk mengobati, bukan untuk mengotak-atik kehidupan yang sudah sehat. Prinsip ini melahirkan norma-norma detail lainnya, yakni: “jangan membunuh, jangan menyebabkan kesakitan atau penderitaan, jangan melumpuhkan, jangan menyerang, jangan menekan keluar hidup yang baik dari seseorang.” Leon R. Kass, presiden dari penasihat Presiden Amerika Serikat untuk bioetika, menandaskan pentingnya para tenaga medis dan ilmuwan untuk tetap berpegang tegus pada prinsip lama yang masih aktual ini. Prinsip PNN sangat menghargai kehidupan, dan penanganan kehidupan yang sedang terganggu (sakit) diwarnai dengan kebijaksanaan yang mendalam. Hipokrates sendiri dalam Decorum, seperti dikutip Kaas, menyatakan, “Antara pengobatan dan cinta akan kebijaksanaan tidak ada perbedaan besar; kenyataannya pengobatan memiliki segala hal yang menuntun menuju kebijaksanaan.”

Terhadap tendensi postmodern untuk merancang generasi penerus ini, pertanyaan kritis dapat dilontarkan: apakah tindakan rekayasa genetika dan screen and abort dalam amniocentesis itu untuk terapi (pengobatan) ataukah sekedar untuk enhancement? Untuk menyembuhkan atau untuk melebih-lebihkan? Untuk terapi fetus yang menderita penyakit atau untuk produksi manusia superior, atau bahkan eliminasi manusia inferior? Sudahlah menjadi jelas bahwa intensi dari rekayasa genetika adalah untuk melebih-lebihkan kualitas generasi penerus, dan amniocentesis berujung pada membinasakan dan membuang generasi penerus yang dinilai tidak kompetitif atau tidak berguna sama sekali.

Maka dari itu, penilaian moral amniocentesis dan rekayasa genetika untuk mendesain generasi penerus jatuh pada pengadilan prinsip PNN. Rekayasa genetika yang bertujuan enhancement dan amniocentesis yang abortif bukanlah jalan terapi yang bisa ditolerir sesuai dengan prinsip PNN dalam etika biomedis. Rekayasa genetika melakukan invasi besar-besaran pada kehidupan yang sudah sehat dengan melebih-lebihkan kualitasnya, ini berarti rekayasa genetika melukai hidup yang sehat, walaupun luka itu tertutup dalam bungkus enhancement. Sedangkan amniocentesis berujung pada aborsi, membunuh kehidupan yang dianggap tidak normal. Manusia hanya dihargai sebatas normal atau tidak normal. Manusia tidak dihargai in se sebagai manusia.

Mendiang Paus Yohanes Paulus II dalam ensiklik Evangelium Vitae juga mendukung prinsip PNN yang secara absolut menghormati hidup manusia dan kesuciannya (EV 89). Maka Paus mengajak para tenaga ahli dan tenaga medis untuk menganut prinsip ini, seraya menjadi tenaga-tenaga profesional yang menjadi penjaga dan pelayan kehidupan manusia.

Untuk rekayasa embryo yang bertujuan melebih-lebihkan mutu kehidupan manusia, Paus menyebutnya sebagai “kejahatan terhadap martabat pribadi manusia” (EV 63). Sedangkan terhadap amniocentesis ia juga menandaskan bahwa jika prosedur itu dimaksudkan untuk terapi maka hal itu secara moral bisa diijinkan (EV 63), akan tetapi kemajuan sains sampai sekarang belum mencapai tahap yang dapat melakukan terapi genetis itu, malah amniocentesis bisa berujung pada aborsi selektif pada anak-anak yang akan lahir cacat. Untuk itu mendiang Paus menegaskan: “Tindakan seperti demikian itu memalukan dan sungguh-sungguh patut dicela, karena sikap itu mengandaikan mengukur nilai kehidupan manusia hanya dari ukuran normalitas dan kesehatan fisik, oleh karenanya membuka jalan untuk melegitimasikan pembunuhan bayi dan juga eutanasia” (EV 63).

E. Penutup: Generasi Penerus, Dilahirkan atau Diproduksi?
Dalam ensiklik Humanae Vitae (1968) yang mungkin banyak disalah mengerti orang dan dianggap suatu ensiklik regresif dari Paus Paulus VI, ia menandaskan prinsip yang menjadi pokok utama pikirannya. Prinsip itu adalah “kehidupan manusia itu adalah suci” dan “jangan memisahkan unsur unitif dan prokreatif” (cf. HV 12-13). Dalam bahasa teknis hal ini terdengar kering. Tetapi pengejawantahan prinsip ini dapat dirumuskan secara positif demikian: “Hidup manusia itu suci, maka janganlah dipermainkan oleh kemjuan teknologi. Sejak awal Sang Pencipta menghendaki agar kehidupan baru yang dilahirkan itu berasal dari cinta antara dua insan yang disatukan di dalamNya. Manusiapun dijadikan rekan kerja samaNya untuk melahirkan manusia baru lewat cinta, bukan lewat rekayasa. Maka cinta kasih suami istri yang terungkap dalam hubungan seksual yang sehat dan saling menghargai sebagai bentuk penyerahan diri total satu sama lain adalah satu-satunya tempat di mana kehidupan baru seharusnya berasal dan bermula. Campur tangan pihak ketiga baik berupa alat ataupun orang itu memisahkan kedua aspek agung dan indah ini: cinta dan kehidupan.”

Manusia itu bukan produk yang dibuat oleh kehendak manusia lain. Para suami-istri, tenaga medis, dan ilmuan bukanlah allah-allah kecil yang bermain-main menjadi seperti Allah bagi manusia lain yang kecil dan tak berdaya dalam bentuk embryo maupun fetus, tetapi mereka adalah pelayan-pelayan Allah (Mzm 116:16, Mat 25:14, Yoh 15:20, 1Kor 7:22, Ef 6:6) dalam menghargai anugerah kehidupan ini. Playing God membuat manusia menjadi frustrasi dan malah akan memproduksi monster-monster yang akan merugikan generasi penerus yang sebenarnya ingin dirancang untuk menjadi lebih baik daripada generasi yang terdahulu. Akankah kita mendukung kelahiran generasi penerus kita sebagai pribadi-pribadi manusia yang diciptakan Allah dengan segala kelebihan dan kekurangannya menurut kehendakNya? Ataukah kita mau memegang kendali dan mendesain generasi penerus kita dan menjadikan mereka sebagai produk kita dan bukan keturunan kita? Kita mau melahirkan atau memproduksi generasi penerus kita? Kita mau memandang generasi penerus sebagai pribadi manusia yang setara dengan kita, atau memandang mereka sebagai raw material yang menunggu untuk kita bentuk menjadi ini dan itu sesuai dengan kehendak kita?

Para pengikut Kristus dipanggil untuk terlibat dalam tindakan penyelamatan Allah di dalam dunia ini. Berhadapan dengan tantangan dunia sains yang semakin maju dan rumit adalah tugas mereka untuk menyembuhkan dunia ini dari efek-efek dosa yang merusak dunia ini. Akhirnya Gaudium et Spes menyatakan,

“Sebab nilai-nilai martabat manusia, persekutuan persaudaraan dan kebebasan, dengan kata lain: semua buah hasil yang baik, yang bersumber pada kodrat maupun usaha kita, sesudah kita sebarluaskan di dunia dalam Roh Tuhan dan menurut perintahNya, kemudian akan kita temukan kembali, tetapi dalam keadaan dibersihkan dari segala cacat-cela, diterangi dan diubah, bila Kristus mengembalikan kita kepada Bapa kerajaan abadi dan universal: “kerajaan kebenaran dan kehidupan, kerajaan kesucian dan rahmat, kerajaan keadilan, cinta kasih dan kedamaian.” Di dunia ini Kerajaan itu sudah hadir dalam misteri, tetapi akan mencapai kepenuhannya bila Tuhan datang.” (GS 39)


Malang, 14 Agustus 2006
Benny Phang, O.Carm

1 comment:

Frater Praja Palangkaraya said...

Makasih romo atas artikelnya. Sangat membantu untuk penulisan skripsi saya tentang amniosentesis. Tuhan memberkati...