Tuesday, December 29, 2020

 


PENJELASAN TENTANG SIKAP MORAL GEREJA TERHADAP

BEBERAPA JENIS VAKSIN UNTUK COVID-19

 

Beredar di tengah masyarakat tentang sumber/asal dari beberapa jenis vaksin untuk Covid-19. Secara garis besar vaksin Covid dibagi menjadi 4 jenis: virus yang dilemahkan (whole virus), asam nukleat (nucleic acid), subunit protein (protein subunit), vektor virus (viral vector). Beberapa jenis dari vaksin ini menggunakan baris sel (cell lines) yang dikabarkan berasal atau bersumberkan dari janin yang diaborsi. Lih. https://www.gavi.org/vaccineswork/there-are-four-types-covid-19-vaccines-heres-how-they-work.

 

Inilah yang menimbulkan pertanyaan di masyarakat: apakah memakai vaksin yang diproduksi dengan cara ini berarti menyetujui aborsi, dan oleh karenanya tidak bermoral? 

 

Gereja telah secara resmi menjawab melalui Pontifical Academy for Life (PAF):  http://www.academyforlife.va/content/pav/en/the-academy/activity-academy/note-vaccini.html dan Congregation of the Doctrine of Faith (CDF): http://www.vatican.va/roman_curia/congregations/cfaith/documents/rc_con_cfaith_doc_20201221_nota-vaccini-anticovid_en.htmlSecara prinsip sebenarnya Gereja juga telah membahas dalam dokumen dari CDF Dignitas Personae pada tahun 2008 lalu.

 

Untuk memahami dengan lebih sederhana penjelasan Gereja yang teknis itu, kita pertama-tama perlu memahami hal-hal berikut: 

·      -   Baris sel dari janin yang telah diaborsi. 

·     -   Penggunaan baris sel tersebut untuk memroduksi vaksin. 

·      -  Prinsip moral terkait penggunaan vaksin jenis tersebut. 

·      -  Keputusan moral setiap pribadi. 

 

A.    Baris sel janin yang telah diaborsi 

Baris sel adalah kultur atau pengembangbiakan sel hewani yang dapat diulang terus menerus, bahkan sampai tak terhingga. Sel-sel ini berasal dari pengembangbiakan awal sel, dan kultur ini berasal dari sel, jaringan, atau organ dari hewan yang digunakan dalam eksperimen dalam waktu singkat, beberapa hari setelah pembiakan. Dari sini kita paham bahwa baris sel merupakan “turunan” ke dua dan seterusnya dari sel atau organ awali.


PAF menjelaskan bahwa baris sel yang digunakan sekarang untuk eksperimen dan produksi vaksin berasal dari janin yang telah diaborsi (digugurkan atau keguguran tidaklah begitu jelas) dari tahun 1960-an. Baris sel ini bisa disebut: materi biologis terlarang (illicit biological materials). Jika baris sel dapat dihasilkan dalam kurun waktu beberapa hari, 20 tahun merupakan waktu dan jarak yang amat jauh dari sumber utamanya. Jadi, baris sel yang digunakan ini bukan diambil dari beberapa janin yang digugurkan akhir-akhir ini seperti dibayangkan oleh beberapa orang. Rentang waktu dan jarak yang jauh ini merupakan unsur penting dalam mengambil keputusan moral. 

 

 

B.    Penggunaan baris sel untuk memroduksi vaksin

Mengapa baris sel begitu penting di sini? 


Hal ini dikarenakan baris sel telah merevolusi penelitian ilmiah dan digunakan untuk memroduksi vaksin, menguji metabolisme  dan unsur racun dari obat-obatan, produksi antibodi, studi fungsi gen, dan menghasilkan jaringan-jaringan artifisial (mis. kulit artifisial) dan sintesis senyawa biologis, mis. protein-protein terapeutis. Lihat: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3341241/.


Namun sekali lagi, dalam hal produksi vaksin Covid-19, baris sel bukan diambil langsung dari janin-janjin yang baru diaborsi, tetapi dari baris sel yang diturunkan sekian lama (20 tahun). Jadi bukan dengan langsung membunuh janin maka baris sel didapatkan, tetapi memanfaatkan dari apa yang sudah dikembangkan puluhan tahun lamanya. 

 

C.    Prinsip moral terkait penggunaan vaksin

Di dalam moralitas katolik dikenal prinsip kerja sama dalam kejahatan (cooperation in evil), namun ada gradasi atau tingkatan kerja sama yang membuat sebuah kerja sama dikatakan buruk atau salah secara moral (lih. KGK 1868). Kerja sama yang bersifat formal, yaitu mengintensikan kejahatan yang sama dengan pelaku utama, yang dianggap secara moral buruk atau salah. Sedangkan kerja sama secara material, artinya: tidak mengintensikan perbuatan buruk yang dilakukan pelaku utama, belum tentu secara moral bersalah. 


Dalam hal pemakaian vaksin jenis ini, CDF mengatakan bahwa kerja sama yang dilakukan pemakai disebut kerja sama material pasif dan jauh, kewajiban moral untuk menolak melakukan perbuatan ini tidak ada, apalagi orang sedang dihadapkan pada situasi yang amat berat, yakni pandemi yang sangat membahayakan hidup masyarakat luas. Pengetahuan akan sumber vaksin ini tidak serta merta membuat orang bekerja sama secara formal atau mengintensikan kejahatan aborsi yang sama. 


Tentu saja sebagai orang katolik yang baik, kita menentang aborsi dan tidak mengintensikan untuk menyetujuinya untuk tujuan yang baik. The end does not justify the means. Keyakinan ini harus tetap ada dan dimiliki oleh setiap insan katolik, seraya terus berharap dan mendesak agar vaksin diproduksi dengan bersih secara moral, sehingga tidak mengganggu hati nurani penggunanya. 

 

 

D.    Keputusan moral setiap pribadi

Menerima vaksinasi adalah tindakan yang bebas dan tidak boleh dipaksakan. Hal ini akan tetap menjadi prinsip utama yang dipegang oleh setiap orang. Namun, prinsip ini tidak berdiri sendirian, kita sedang dihadapkan pada keselamatan global penduduk dunia, hal ini tidak boleh dipandang remeh. Tanggung jawab pribadi terhadap keselamatan dunia, demi kepentingan umum, hendaknya diutamakan. 


Jika seorang pribadi masih bersikeras untuk menolak vaksin atas dasar rigiditas moralnya, maka ia juga punya kewajiban moral untuk menjaga secara detil dan menyeluruh dirinya di tengah pandemi ini agar tidak terjangkiti virus dan menjangkiti orang lain. Dapatkah seorang pribadi menjamin penuh hal ini? Saya kira jawabannya di tengah pandemi global ini adalah: tidak mungkin. 

 

         Semoga sedikit membantu. Mari kita satukan doa-doa kita, agar pembagian dan pemberian vaksin berjalan dengan baik dan adil. Juga agar dengan kuasa-Nya dan kerja keras kita Tuhan menghentikan pandemi ini. 


Tuhan Yesus memberkati kita sekalian! 

 

Benny Phang, O.Carm

Wednesday, December 2, 2020

                                                


                          

           
Sekali lagi, Bahasa Roh!

 

            Allah Roh Kudus bernasib malang. Pribadi ketiga dari Tritunggal Mahakudus ini terlupakan oleh umat katolik, bahkan seringkali mengundang kecurigaan. Kesalahpahaman ini menjadi ekstrim ketika dalam sebuah seminar seorang anggota Dewan Paroki pernah memberi pernyataan dengan gagah penuh keyakinan, “Bunda Maria itu dalam ajaran Gereka Katolik posisinya jauh lebih penting dan tinggi daripada Roh Kudus yang miliknya orang-orang kharismatik itu.” 

 

Padahal di sisi lain, Syahadat resmi Gereja sudah merumuskan dengan jelas dan padat peran Roh Kudus dalam peristiwa inkarnasi, “Ia dikandung dari Roh Kudus, dilahirkan oleh Perawan Maria dan menjadi manusia.” Dan mengenai Diri-Nya sendiri, “Aku percaya akan Roh Kudus, Dia Tuhan yang menghidupkan; Ia berasal dari Bapa dan Putra, yang serta Bapa dan Putra disembah dan dimuliakan; Ia bersabda dengan perantaraan para nabi.” 

 

Kehadiran-Nya sejak awal dunia menjadi lebih nyata dalam diri Yesus Kristus dan dalam Gereja-Nya. Kisah Para Rasul telah mengisahkan dengan indah bagaimana Roh Kudus membimbing Gereja-Nya pada awal perjalanannya yang sangat tidak mudah. Namun, kehadiran-Nya kembali tersembunyi, namun terus membimbing dan memberi kehidupan bagi Gereja. Kharisma-kharisma secara khusus bekerja di padang gurun, pada komunitas-komunitas senobit, pada hidup membiara, pada gerakan mendicantes dan serikat-serikat religius. Secara mengejutkan setelah Ia membimbing Gereja melalui Konsili Vatikan II, dan setelah ditunggu-tunggu oleh Josef Ratzinger yang kelak akan menjadi Paus, akhirnya Roh Kudus menampakkan diri-Nya secara lebih nyata lagi melalui Gerakan Pembaharuan Hidup di dalam Roh. Dengan segera gerakan ini menjadi gerakan yang terbesar anggotanya di dalam Gereja. 

 

Dari gerakan inilah kita mengenal kembali karunia-karunia yang nampaknya spektakuler dan khas dari gerakan ini. Dicatat dan dibahas oleh Yves Congar, dalam trilogi buku klasiknya: I Believe in the Holy Spirit, karunia-karunia tersebut adalah: bahasa Roh, kenabian, dan penyembuhan. Dan yang paling kontroversial di sini adalah karunia bahasa Roh. 

 

Membahas tentang bahasa Roh memang tidak mudah. Banyak terjadi prasangka-prasangka yang tidak sehat di kalangan umat. Ada yang membela membabi-buta, ada yang menolak mentah-mentah. Ini terjadi di kalangan umat dalam skala yang makin mengecil, tapi (masih saja) terjadi di kalangan gembala umat. Mengapa hal ini terjadi? Karena karunia Roh ini adalah karunia yang paling kontroversial dan seolah-olah memisahkan antara yang karismatik dan non karismatik. Kita perlu keberhati-hatian dalam berpikir dan berefleksi teologis, sehingga tidak gegabah dan menunjukkan emosi saja. Keangkuhan teologis menujukkan bahwa keutamaan kristiani kerendahan hati belum berkembang dalam pribadi seseorang! 

 

Pertama-tama bahasa Roh adalah salah satu karunia Roh Kudus (1 Kor 14:2-dst). Karunia adalah gift, anugerah, hadiah dari Allah. Jadi itu bukan barang buatan manusia dan terserah pada yang memberi, yakni Allah. Jadi bahasa Roh bukanlah fenomen gila atau penyakit psikologis, tapi karunia Allah. Jadi tidaklah tepat kalau orang dengan angkuh menolak adanya karunia ini, dan juga sangatlah salah kalau orang bermain-main dengan mengklaim atau meniru-niru karunia ini. Karunia adalah pemberian bebas dari Allah, tidak bisa dipaksakan, hanya bisa dan perlu dimohonkan dengan rendah hati. 

 

Lalu bahasa Roh sendiri itu apa? Apakah itu glossolalia (berkata-kata dengan tidak jelas) atau xenoglossia (berkata-kata dalam bahasa asing dengan baik dan jelas tanpa punya pengetahuan tentang bahasa tersebut)? Jawabannya keduanya. Akan tetapi yang lebih biasa terjadi adalah glossolalia, meskipun memang dalam beberapa kasus ada xenoglossia, seperti dalam Pentakosta perdana (Kis 2:1-13). Thomas Aquinas dalam ST II-II, q. 176, art. 1-2 merujuk pada xenoglossia sebagai karunia yang diberikan pada Gereja awali untuk karya pewartaan Injil, Kabar Sukacita. Setelah diadakan penyelidikan, tak ada fenomen bahasa di dalam bahasa Roh, ini melulu ungkapan atau doa Roh pada Allah dengan cara misterius (I Kor 14:2.14), suatu stenagmois alaletois (inexpressible groanings, Rom 8:26) dan untuk membangun hidup rohani pribadi (I Kor 14:4). Ini adalah karunia doa pribadi yang sangat dirindukan oleh para kudus! 

 

Karunia ini ada dan baik. Saya pribadi sangat menyayangkan (masih) adanya seorang gembala umat yang tampil di media sosial dan dengan angkuh dan nada meremehkan menganggap glossolalia ini hanya sebagai gumaman tanpa makna saja dan mengesampingkannya sebagai sebuah karunia Roh. Be humble, Brother. You are teaching the faithful! Teolog besar seperti Yves Congar memberi catatan kritis tapi tak mengejeknya, ia mendapat gelar kehormatan Kardinal sebagai penghargaan dari Bunda Gereja atas karyanya sebagai teolog dan peritus (staf ahli) dalam Konsili Vatikan II. Raniero Cantalamessa yang baru mendapat gelar Kardinal menulis dengan indah karunia ini dalam bukunya Come, Creator Spirit. Paus Yohanes XXIII mengundang kehadiran Roh Kudus sebelum ia mengumumkan Konsili Vatikan II. Paus Paulus VI memohon kekuatan-Nya dalam melaksanakan amanat Konsili yang tidak mudah. Para Paus Yohanes Paulus II, Benediktus XVI dan Fransiskus menyambut dengan gembira karya Roh ini dan Gerakan Pembaharuan. Paus Fransiskus bahkan mengundang pertemuan tahunan di lapangan St. Petrus Vatican. Daftar masih bisa dipanjangkan lagi. Sebagai gembala umat kita dipanggil untuk menyatukan, bukan menimbulkan keretakan; mengajar dengan bijak, bukan menurut selera pribadi. 

 

Karunia bahasa Roh adalah karunia yang baik dan perlu, tapi tidak begitu penting jika dibandingkan karunia lain yang memiliki dampak sosial langsung, seperti  karunia nubuat (I Kor 14:3). Rasul Paulus menilai pentingnya karunia dengan patokan seberapa besar ia secara langsung membangun jemaat. Sedangkan karunia bahasa Roh adalah karunia yang membangun seseorang secara pribadi dalam doa pribadi sebagai bentuk relasinya dengan Allah (IKor 14:2.4-5). 

 

Karunia ini adalah karunia biasa (bdk. zaman ‘emas’ karunia ini dalam Kisah Para Rasul), dan bukan karunia elitis yang membuat orang menjadi eksklusif dan merasa diri lebih tinggi daripada orang lain yang tidak menerima karunia ini. Banyak orang yang tidak bijaksana memahami arti karunia ini. Jika karunia itu benar-benar dari Roh Kudus, maka karunia bahasa Roh ini akan membuat kita tetap rendah hati dan bersatu dalam Gereja. Kalau membuat kita sombong dan memecah belah, jangan-jangan itu adalah perbuatan roh jahat. Ingat, si jahat bisa memalsukan semua hal rohani, kecuali kasih. 

 

Meskipun bahasa Roh adalah karunia biasa, namun karunia ini adalah karunia doa yang mendalam yang, sekali lagi, sangat dirindukan oleh para pujangga doa dalam hidup Gereja. Para umat di zaman awal Gereja menggunakan karunia ini dengan ekstensif, lihat Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus. Paulus juga menggunakannya, bahkan mengaku bahwa ia berbahasa Roh “lebih baik” daripada yang lain (1 Kor 14:18). Rasul agung ini, yang menggunakan karunia bahasa Roh dengan bijaksana, menasihatkan agar kita berusaha memperoleh karunia ini beserta dengan karunia-karunia Roh yang lain, namun hendaklah semua karunia itu digunakan untuk membangun jemaat (1 Kor 14:12). Mohonlah karunia ini, dan janganlah menolak jika kita mendapatkannya. Peliharalah karunia ini dengan tekun, karena Allah yang memberikan karunia ini pada kita, tahu apa yang terbaik bagi kita. Janganlah memadamkan karunia Roh Kudus karena malu pada manusia! 

 

Sebagai orang Katolik kita tak perlu takut akan karunia ini. Mengapa harus takut pada karunia Allah? Dampak yang  terjadi kalau orang menerima karunia ini adalah: tenang-damai, lega, pikiran terfokus dalam doa, dan feel the great love of God in prayers. Bagi mereka yang tak mendapat tak usah dipaksakan, berpura-pura mendapatkannya dan meniru-niru, sehingga menjadi aneh, akan tetapi juga jangan menutup diri pada karunia doa ini. Bagi yang mendapat jangan pamer karena ini bukan barang mainan dan barang pameran, tapi karunia kudus dari Allah. Sekali lagi tidak ada status rohani yang lebih tinggi antara yang mendapat karunia ini dan mereka yang tidak mendapatkannya. Bahasa Roh bukanlah karunia penanda bahwa seseorang itu kudus! Ada uncountable karunia yang tersedia, jangan khawatir. Tapi sekali lagi karunia bahasa Roh  ini adalah karunia common, umum, maka dari itu mohonkanlah karunia ini dengan rendah hati dan penuh kerinduan mendalam. 

 

Sebagai penutup marilah kita berpegang teguh pada ajaran St. Paulus sendiri: “Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih daripada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat” (1 Kor 14:12).

 

 

Roma, 2.12.2020

Benny Phang O.Carm 

 

 

Wednesday, February 13, 2019

Percakapan penuh haru antara Karna dan Kunti



Karna:
Di tepi pantai suci Jahnavi kupanjatkan doa-doaku
pada matahari senja. 
Karna namaku,
anak kusir Adhirath, dan Radha ibuku.
Itulah diriku.
Puan Putri, siapakah Anda?
Kunti:
Nak, sejak fajar awal hidupmu
akulah yang mengenalkanmu pada dunia luas.
Itulah diriku, dan hari ini kusisihkan semua rasa maluku,
tuk mengatakan padamu, siapakah diriku.
Karna:
Puan Putri yang terhormat, cahaya mata sendu Puan
meluluhkan hatiku, bagai cahya mentari meluluhkan salju di gunung.
Suara Puan menembus pendengaranku,
bak sepenggal suara dari masa kelahiran nan lalu
dan itu membangkitkan rasa pedih nan aneh.
Katakanlah padaku, dengan rantai misteri apa
kelahiranku terkait denganmu, hai wanita asing?
Kunti:
            Oh, sabarlah Nak, tunggulah sejenak.
Biarlah dewa mentari masuk ke peraduannya,
dan biarlah gulita senja menebal melingkupi kita.
Kini, biarlah kukatakan padamu, wahai satria.
Aku Kunti.
Karna:
            Engkau Kunti!  Ibu Arjuna!
Kunti:
Benar, akulah Ibu Arjuna!
Namun, Nak, janganlah membenciku karna itu.
Aku masih terkenang
pada hari pertandingan itu, 
kala engkau sebagai seorang pemuda,
perlahan memasuki arena di Hastinapura
bak mentari pagi terbit menyentuh kaki langit timur,
masih berhiaskan bebintangan!
Dari semua wanita yang menyaksikan dari balik layar,
adalah dia, karena untung, tak mampu berbicara,
merasakan siksaan dalam dadanya
gegigitan yang merindukan kasih,
bagai ribuan taring ular betina?
Siapa yang dengan matanya 
melingkupi lengan-lenganmu dengan ciuman berkat?
Dialah Ibu Arjuna! 
Waktu Kripa seraya tersenyum tampil ke depan
tuk memintamu mengumumkan nama ayahmu, dan berkata,
“Dia yang tak dilahirkan sebagai keluarga kerajaan,
tak berhak sama sekali tuk menantang Arjuna,”
            dan dirimu, memerah-padam karna malu, tak sanggup berkata-kata,
            wajahmu tertunduk, hanya berdiri di sana,
            dan dia yang dadanya terbakar oleh pancaran rasa malumu bagai api:
            siapakah wanita nan tak beruntung itu?
            Dialah Ibu Arjuna! 
            Terpujilah pemuda Duryudana itu,
            yang dengan segera memahkotaimu sebagai pangeran di Anga.
            Ya, kupuji dia!
            Dan, kala kau dimahkotai, air mata mengalir dariku
            deras mengalir padamu, membanjiri kepalamu.
 
            Kala kau kembali memasuki arena,
            masuklah Adhirath, si kusir itu, di sampingnya
            dengan sukacita, dan engkau juga, di atas kereta kerajaanmu
            di antara khalayak nan ingin tahu melongokkan kepala mereka,
engkau membungkukkan kepalamu yang baru diurapi,
dan menyentuh kaki si kusir tua, seraya memanggilnya, “Ayah.”
Para sobat Pandawa, dengan kejam dan penuh penghinaan tersenyum.
Tepat pada saat itu, dia memberkatimu sebagai pahlawan,
oh permata di antara para pahlawan,
akulah wanita itu, Ibu Arjuna.
Karna:
Salam bagimu, Puan nan luhur.
Engkaulah seorang Bunda Kerajaan.
Mengapa engkau di sini sendirian?
Di arena pertempuran ini
dan aku, panglima serdadu Kurawa.
Kunti:
            Nak, aku datang tuk memohon kemurahan darimu.
Jangan biarkan aku kembali dengan tangan kosong.
Karna:
            Kemurahan?  Dariku?!
Kecuali kelelakianku, dan apa yang dituntut dharma,
semuanya akan kuletakkan di bawah kakimu,
jika engkau menginginkan demikian.
Kunti:
Aku datang untuk membawamu pergi.
Karna:
            Ke manakah kau kan membawaku?
Kunti:
Ke dadaku nan merindu, ke pangkuan bundawiku.  
Karna:
Wanita nan beruntunglah engkau, diberkati dengan lima putra,
dan aku hanyalah anak muda tak berarti, tanpa kebangsawanan,
di manakah kau dapatkan tempat untukku?
Kunti:
            Tepat di puncak!
            Aku akan menempatkanmu di atas semua anakku,
            karna kaulah yang sulung.
Karna:
            Dengan hak apa  
            aku akan memasuki tempat suci itu?
            Katakan padaku bagaimana
            dari mereka yang telah disingkirkan dari tahta kerajaan,
            aku ini mungkin 'tuk ambil bagian dalam kekayaan itu,
            dalam cinta seorang ibu, yang sepenuhnya milik mereka.
            Hati seorang ibu tak dapat diombang-ambingkan,
            ataupun ditundukkan oleh paksaan.
            Hati itu adalah anugerah ilahi.
Kunti:
            Oh anakku,
sungguh dengan cahaya ilahi, suatu waktu engkau t'lah tiba di pangkuanku,
dan dengan hak nan sama kan kembali lagi, dengan kemuliaan;
sama sekali janganlah khawatir,
ambillah tempatmu itu di antara para saudaramu,
di pangkuan bundawiku.
Karna:
            Bagai dalam mimpi,
kudengar suaramu, Puan yang terhormat.
Lihatlah, kegelapan telah melingkupi kaki langit,
telah menelan ke empat desa,
dan sungai telah menenang.
Kau t'lah bawaku pergi
ke dunia penuh pesona, 
ke rumah nan terlupakan,
ke fajar kesadaran.
Perkataanmu
bagaikan kebenaran-kebenaran lama
menyentuh hatiku yang terpesona.
Keadaan nan sedang mengelilingiku saat ini.
serupa dengan kala diriku sebagai janin,
dalam kegelapan rahim bundaku,

Oh Bunda Ratu,
Wanita nan penuh kasih,
entah ini nyata atau mimpi,
mari letakkan tanganmu
pada pundakku, pada daguku, sebentar saja. 
Sungguh, aku pernah mendengar
bahwa aku telah ditelantarkan oleh ibu kandungku.
Betapa seringnya pada kedalaman malam
aku bermimpi tentang ini:
dengan perlahan dan lembut bundaku datang menjengukku
dan aku merasa bahwa
aku bermuram durja, 
dan memohonnya dengan curahan air mata,
“Bunda, singkapkan kerudungmu, 
biarkan aku memandang wajahmu.”
Seketika itu, sosok itu lenyap,
terkoyak oleh kerakusan dan kehausan mimpiku.
Mimpi itu, apakah tiba juga malam ini dalam rupa Bunda Pandawa,
di padang pertempuran, dekat Bhagirathi?
Pandanglah, Puan, di seberang sungai, di kemah Pandawa
lampu-lampu berkedip,
dan di sisi sini, tak jauh, dalam kandang-kandang kuda Kurawa,
seratus ribu kuda menderapkan kaki.
Esok pagi, pertempuran akbar kan bermula.
Mengapa malam ini,
kudengar dari mulut Bunda Arjuna, suara Bundaku sendiri?
Mengapa namaku bergema di mulutnya
bagai musik nan begitu merdu,
sedemikian hingga hatiku tertuju pada Sang Lima Pandawa,
dan memanggil mereka “adik-adikku”?
Kunti:
Ayolah Nak, ikutlah aku.
Karna:
Baik, Bunda, kukan pergi bersamamu.
Aku takkan bertanya lagi.
Tanpa ragu, tanpa khawatir, kukan pergi.
Puan, engkaulah Bundaku!
Dan panggilanmu telah membangunkan jiwaku –
tak lagi dapat kudengar genderang perang,
pun keagungan suara terompet kerang.
Kekerasan perang, ketenaran pahlawan, kejayaan dan kekalahan –
semuanya palsu.
Ambil aku.
Ke mana kuharus pergi?
Kunti:
            Ke sana, ke seberang sungai,
di mana lampu menyala dalam tenda-tenda nan tenang,
di pasir putih.
Karna:
            Dan di sana,
putera piatu kan menemukan Bundanya selamanya!
Di sana, bintang kutub kan membangunkan malam
dalam matamu nan berlimpah kasih.
Puan, sekali lagi, katakanlah bahwa
aku adalah anakmu.
Kunti:
            Anakku!
Karna:
            Lalu mengapa
telah kaucampakkan aku begitu hinanya –
tanpa kehormatan keluarga, tanpa mata ibu yang menjagaiku
dari dunia yang buta dan asing ini?
Mengapa kau membiarkanku mengapung
di dalam arus hinaan yang tak terbendungkan,
tercampak dari para saudaraku?
Engkau membentangkan jarak antara Arjuna dan aku,
kala mana sejak aku kecil
sebuah ikatan permusuhan pahit
yang halus, tak kasat mata
menarik kami satu sama lain
dalam daya tarik yang tak terelakkan

Bunda, tak punya jawabankah dirimu?
Kurasakan rasa malumu menembus lapisan gelap ini
dan menyentuh semua anggota tubuhku tanpa kata,
kututup mataku.
Biarkan saja -
Engkau tak perlu menjelaskan mengapa engkau menyingkirkanku.
Cinta seorang ibu adalah hadiah utama Tuhan di dunia ini;
mengapa permata suci itu harus kaurenggut
dari anakmu sendiri?
Ini adalah pertanyaan yang dapat
tidak kaujawab!
Namun katakan padaku:
mengapa engkau mengajakku kembali lagi?
Kunti:
Nak, biarkan teguranmu
bagaikan ratusan petir mengoyak hatiku
jadi ratusan keping.
Bahwa aku telah menyingkirkanmu
adalah kutukan yang menghantuiku,
itulah sebabnya
diriku ini bagai tak beranak bahkan dengan lima putra terkasih,
mengapa lengan-lenganku terus mencari di dunia ini
mengepak dan menggapai-gapai  
justru dirimu.
Untuk anak yang tercampakkan itulah
hatiku menyalakan lampu,
dan dengan membakar hatiku sendiri,
aku memberi penghormatan kepada Pencipta alam semesta ini.
Hari ini aku menganggap diriku beruntung
bahwa aku telah berhasil melihatmu. 
Kala mulutmu
belum mampu mengucapkan sepatah kata pun,
aku telah melakukan kejahatan nan mengerikan.
Nak, dengan mulut yang sama
maafkan ibumu yang jahat.
Biarkan pengampunan itu membakar
lebih ganas dari segala teguran di dalam dadaku,
mengubah dosa-dosaku menjadi abu dan menjadikan aku suci!
Karna:
Oh Bunda, berikan, berikan padaku debu di kakimu,
dan ambillah air mataku!
Kunti:
            Nak, aku tidak datang
hanya dengan harapan bahagia memelukmu ke dadaku,
tapi untuk membawamu kembali 
ke tempat di mana kau berhak berada.
Engkau bukanlah anak kusir, tetapi seorang bangsawan -
singkirkan penghinaan yang telah menjadi nasibmu
dan marilah pergi ke tempat mereka semua - lima saudaramu.
Karna:
Tapi Bunda, aku ini anak seorang kusir,
dan Bunda Radha –
kemuliaan yang lebih besar dari itu aku tidak punya.
Biarkan Pandawa menjadi Pandawa,
para Kurawa tetap Kurawa –
Aku takkan iri pada siapa pun.
Kunti:
            Dengan keperkasaan lenganmu,
pulihkan kerajaan milikmu sendiri, Anakku.
Yudhistira akan mengipasimu dengan kipas putih;
Bima akan memayungimu;
Arjuna, sang pahlawan, kan jadi kusirmu;
Guru Dhaumya akan melantunkan mantra Veda;
dan engkau, penghancur musuh,
akan tinggal bersama saudara-saudaramu,
menjadi penguasa tunggal di kerajaanmu,
duduk di tahtamu nan berhiaskan permata,
kuasamu tak terbagikan.
Karna:
Singgasana, tentu saja!
Untuk seseorang yang begitu saja menolak ikatan keibuan
engkau sedang menawarkan, Bunda, jaminan kerajaan?
Kekayaan yang darinya 
engkau pernah mencabut hak warisku
tak dapat dikembalikan –
itu di luar kemampuanmu.
Kala diriku lahir, Bunda,
dariku kau telah mengoyak:
ibu, adik-adik, keluarga kerajaan –
semuanya lenyap sekaligus.
Jika hari ini aku mesti mengingkari ibu angkatku, 
dia yang dari kasta kusir,
dan dengan berani menyebut Bunda Ratu sebagai ibuku sendiri,
jika aku lepaskan ikatan yang mengikatku pada Pangeran Kuru,
dan bernafsu atas sebuah takhta kerajaan,
maka celakalah aku!
Kunti:
            Terberkatilah engkau, Puteraku,
engkau benar-benar berjiwa pahlawan.
Oh, Dharma, betapa keras keadilanmu!
Oh, siapa yang tahu, pada hari itu,
ketika aku meninggalkan seorang anak kecil nan tak berdaya,
bahwa dari suatu tempat ia akan mendapatkan kekuatan seorang pahlawan,
suatu hari kan kembali dari jalan-jalannya yang gelap,
dan dengan tangannya yang kejam melemparkan senjata ke arah mereka,
yang adalah para saudara laki-lakinya,
yang lahir dari ibu yang sama!
Betapa beratnya kutukan ini!        
Karna:
            Ibu, jangan takut.
Kuramalkan bahwa Pandawa-lah yang kan menang.
Dari jendela kesuraman malam ini
aku bisa membaca dengan jelas di depan mataku
hasil perang yang mengerikan:
terbaca dalam cahaya bintang.
Waktu hening dan tenang ini
dari langit tinggi tanpa batas
sebuah lagu mengalun di telingaku:
usaha tanpa kemenangan, keringat tanpa harapan -
aku bisa melihat akhirnya, penuh kedamaian dan kehampaan.
Sisi yang akan kalah -
tolong jangan minta saya meninggalkan sisi itu.
Biarkan para putera Pandu menang, dan menjadi raja,
biarkan aku tinggal bersama yang kalah,
mereka yang harapannya akan pupus.
Pada malam kelahiranku, engkau meninggalkanku di bumi:
tanpa nama,
tunawisma.
Dengan cara yang sama hari ini,
jadilah kejam Ibu, dan tinggalkan aku:
tinggalkan aku pada kekalahanku yang sepi, tanpa sorak. 
Hanya berilah aku berkatmu sebelum engkau pergi:
Semoga  ketamakanku akan kemenangan, 
akan ketenaran atau untuk sebuah kerajaan 
jangan pernah membelokkanku 
dari jalan kepahlawan dan keselamatan.  


15 Phalgun 1306
Saduran dan terjemahan oleh
Rabindranath Tagore
pada musim semi 1900