Monday, November 24, 2008

Perbedaan Mengancam Kita?



Perbedaan seringkali menakutkan kita, dan dari ketakutan ini lahirlah sikap curiga pada pihak lain yang berbeda.

Dalam hal suku atau ras, kita seringkali memandang mereka yang berbeda dengan kita sebagai suku yang lebih rendah derajatnya. Di zaman Hitler orang Jerman menyebut rasnya sebagai ├╝ber alles (di atas semuanya). Orang Itali dengan nada mengejek memandang orang Asia sebagai la gente da fuori (bangsa di luar kita). Orang Cina di Indonesia menyebut suku lain bukan zhongguo ren (bukan Cina). Orang Jawa memandang orang yang tidak selembut mereka sebagai ora njawani (tidak bertindak seperti orang Jawa). Orang Batak juga menyebut suku lain sebagai ndang halak hita do (bukan orang kita).

Dalam hal agama, kita lihat betapa perang salib di abad pertengahan sudah menumpahkan darah tanpa arti, selain hanya menyuburkan kebencian antar agama. Masing-masing menganggap diri sebagai pemegang kebenaran yang turun dari langit. Sampai sekarang orang masih saling curiga dengan orang lain yang berbeda agama. Saling menjegal. Saling memata-matai. Saling menjatuhkan.

Dalam hal seksualitas, perbedaan antar pria dan wanita membuat kedua kubu jenis kelamin ini berseteru. Si pria menuduh wanita sebagai makhluk dengan penis envy, sebaliknya wanita menuduh pria sebagai makhluk yang lack of womb.

Dalam hal tugas dalam kehidupan sehari-hari setiap orang mengklaim bahwa tugasnya, posisinya, dan jabatannyalah yang paling penting yang harus menjadi titik acuan.

Perbedaan, oh...perbedaan. Mengapa engkau begitu ditakuti?

Dengan perbedaan dunia menjadi lebih cerah dan berwarna-warni, karena variatio delectat, perbedaan itu menyukakan hati! Perbedaan memperkaya. Perbedaan saling mengisi. Perbedaan membuat kita rendah hati.

"Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh.
Dan ada rupa-rupa pelayanan, tetapi satu Tuhan.
Dan ada berbagai-bagai perbuatan ajaib, tetapi Allah adalah satu yang mengerjakan semuanya dalam semua orang.
Tetapi kepada tiap-tiap orang dikaruniakan penyataan Roh untuk kepentingan bersama"
(IKor 12:4-7).