Friday, February 29, 2008

Holiness of Marriage


Paul has precisely described for husband and wife what is fitting behavior for each: she should reverence him as the head and he should love her as his body. But how is this behavior achieved? That it must be is clear; now I will tell you how. It will be achieved if we are detached from money, if we strive above everything for virtue, if we keep the fear of God before our eyes. What Paul says to servants in the next chapter applies to us as well, ...knowing that whatever good anyone does, he will receive the same again from the Lord (Eph. 6:8). Love her not so much for her own sake, but for Christ's sake. That is why he says, be subject...as to the Lord. Do everything for the Lord's sake, in a spirit of obedience to Him. These words should be enough to convince us to avoid quarrels and disagreements. No husband should believe any accusation he hears from a third party about his wife, and vice versa; nor should a wife unreasonably monitor her huband's comings and going, provided that he has always shown himself to be above suspicion. And what if you devote the day to your work and your friends, and the evening to your wife; but she is still not satisfied, but is jealous for more of your time? Don't be annoyed by her complaints; she loves you, she is not behaving absurdly--her complaints come from her fervent affection for you, and from fear. Yes, she is afraid that her marriage bed will be stolen, that someone will deprive her of her greatest blessing, that someone will take from her him who is her head.

A wife should never nag her husband: "You lazy coward, you have no ambition! Look at our relatives and neighbors; they have plenty of money. Their wives have far more than I do." Let no wife say any such thing; she is her husband's body, and it is not for her to dictate to her head, but to submit and obey. "But why should she endure poverty?" some will ask. If she is poor, let her console herself by thinking of those who are much poorer still. If she really loved her husband, she would never speak to him like that, but would value having him close to her more than all the gold in the world....Furnish your house neatly and soberly. If the bridegroom shows his wife that he takes no pleasure in worldly excess, and will not stand for it, their marriage will remain free from the evil influences that are so popular these days. Let them shun the immodest music and dancing that are currently so fashionable.

I am aware that many people think me ridiculous for giving such advice; but if you listen to me, you will understand the advantages of a sober lifestyle more and more as time goes on. You will no longer laugh at me, but will laugh instead at the way people live now like silly children or drunken men. What is our duty, then? Remove from your lives shameful, immodest, and Satanic music, and don't associate with people who enjoy such profligate entertainment. When your bride sees your manner of life, she will say to herself, "Wonderful! What a wise man my husband is! He regards this passing life as nothing; he bas married me to be a good mother for his children and a prudent manager of his household." Will this sort of life be distasteful for a young bride? Only perhaps for the shortest time, and soon she will discover how delightful it is to live this way. She will retain her modesty if you retain yours. Don't engage in idle conversations; it never profits anyone to talk too much. Whenever you give your wife advice, always begin by telling her how much you love her. Nothing will persuade her so well to admit the wisdom of your words as her assurance that you are speaking to her with sincere affection. Tell her that you are convinced that money is not important, that only thieves thirst for it constantly, that you love her more than gold; and indeed an intelligent, discreet and pious young woman is worth more than all the money in the world. Show her that you value her company, and prefer being at home to being out. Esteem her in the presence of your friends and children. Pray together at home and go to Church; when you come back home, let each ask the other the meaning of the readings and the prayers. If you are overtaken by poverty, remember Peter and Paul, who were more honored than kings or rich men, though they spent their lives in hunger and thirst. Remind one another that nothing in life is to be feared, except offending God. If your marriage is like this, your perfection will rival the holiest of monks.

St. John Chrysostom

Tuesday, February 26, 2008

Mengikuti Yesus Kristus: Sang Anak Domba Allah

Percikan Permenungan tentang sumbangan spritualitas Karmel bagi pengembangan keadilan sosial

Tahun ini, kita sebagai Karmelit sedang merayakan 800 tahun Regula (1207-2007), cara hidup (formula vitae) kita yang dibakukan dalam bentuk peraturan. Secara kebetulan pula Ordo akan menyelenggarakan Kapitel Jenderal yang bertemakan: “In Obsequio Jesu Christi: Sebuah Komunitas Pendoa dan Profetik di Tengah Dunia yang Sedang Berubah.” Perayaan persaudaraan Ordo ini seolah hendak mengingatkan kita bahwa sudah 800 tahun kita mengikuti Yesus Kristus, dan untuk masa depan kita juga harus tetap setia mengikuti Yesus Kristus.

Dunia memang sedang berubah dengan cepat. Situasi sosial-politis di negara kitapun sedang berubah ke arah yang tidak jelas. Semua pihak berlarian ke sana – ke mari dengan agenda dan kepentingannya sendiri. Kekerasan merajalela. Kasus terakhir adalah IPDN. Tempat pendidikan calon pemimpin rakyat ternyata tersingkap sebagai sarang kekerasan, dan lebih mengenaskannya lagi, budaya kekerasan itu sangat diakrabi oleh generasi muda. Kekerasan itu melahirkan kematian. Benarlah apa yang disinyalir oleh mendiang Yohanes Paulus II dalam ensiklik Evangelium Vitae tahun 1995, bahwa kita sedang berada di tengah pertempuran antara budaya kematian dan budaya kehidupan (the culture of death vs. the culture of life).

Di tengah situasi perjuangan demi kehidupan (Yoh 10:10) inilah Ordo mengingatkan dan mengajak kita kembali untuk “mengikuti Yesus Kristus.” Berjuang demi kehidupan yang berlimpah ini bukanlah lain suatu perjuangan demi keadilan dan perdamaian.

Tanggapan Regula pada pertanyaan bagaimana ini singkat dan jelas: in obsequio Jesu Christi. Masalahnya sekarang Kristus itu begitu agung dan luas, aspek manakah dalam perjuangan keadilan dan perdamaian yang harus mendapat penekanan itulah yang penting? Setelah merenungkan kembali Regula, dalam rekoleksi ini saya menawarkan suatu refleksi tentang Yesus Kristus sebagai Sang Anak Domba Allah. Gelar Yesus ini sudah kita ketahui ketika kita belajar Kristologi, dan sering kita dengarkan serta kita nyanyikan, baik dalam misa kudus maupun dalam ibadat sore, dan gelar ini seolah berlalu saja di telinga dan pikiran saya. Namun saya menjadi sangat terkejut ketika sedang mengambil kelas tentang teori perang yang adil (the just war theory), di mana seorang teolog yang bernama John Howard Yoder menyuguhkan suatu refleksi menolak perang dan kekerasan dengan memaparkan teologi Anak Domba Allah. Saya mau berbagi keterkejutan itu dengan Anda, dan mencoba membacanya dari perspektif seorang Karmelit. Untuk itu saya akan membagi rekoleksi ini demikian:

- Session I: refleksi biblis tentang Anak Domba Allah dan bagaimana regula kita menyiratkan karakteristik gelar Yesus ini di dalamnya.
- Session II: refleksi atas praxis perjuangan keadilan dan perdamaian kita sebagai Karmelit.


In Obsequio Jesu Christi
Obsequor (L) berarti: mengikuti, mengalah, menurut, menyesuaikan diri dengan, menyerahkan diri pada, berbakti. Jadi in obsequio Jesu Christi vivere secara harafiah berarti: hidup mengikuti, mengalah, menurut, menyesuaikan diri dengan, menyerahkan diri pada, atau berbakti pada Yesus Kristus. Istilah ini diambil dari dunia feodal, di mana seorang hamba hidup mengikuti tuannya. C. Cicconetti menjelaskan hal ini dengan mengatakan demikian:

“Mengikuti atau menyerahkan diri pada orang lain (obsequium) menyiratkan tugas-tugas dari pihak tuan maupun hamba. Mereka yang hidup dalam kuasa dari seorang tuan feodal menjanjikan menjadi pelayan yang baik dan setia, membantu dalam perang, dan berpartisipasi dalam menyelesaikan problem atau menjawabi pertanyaan. Sebagai balasannya, sang tuan menjanjikan perlindungan bagi hamba-hambanya.”

Ide feodal ini diangkat dengan baik oleh para bapa pendiri Ordo kita. Mereka mengangkat Kristus sebagai Tuan yang mereka ikuti. Mereka berjuang untuk merebut kembali tanah Kristus (tanah suci). Akan tetapi cara yang mereka pakai berbeda dengan para pasukan perang salib yang menggunakan kekerasan dan kekuatan militer. Para bapa pendiri berjuang demi Kristus dengan peperangan rohani, dan dengan demikian mereka sungguh mengikuti Tuan mereka Kristus yang menderita dan disalibkan, sebagai pribadi dan sebagai komunitas. Maka tidaklah heran kalau di dalam Regula pasal 18-19 kita merasakan ada situasi “peperangan” di dalamnya.

Para bapa pendiri Ordo Karmel menghidupi in obsequio Jesu Christi itu dengan cara hidup mereka yang kemudian tampak jelas dalam tubuh Regula. Apa yang mereka cantumkan dalam prolog tentang mengikuti Yesus Kristus dijabarkan satu persatu. Jadi struktur Regula kita ini sangat Kristosentris. Menurut Regula, hidup mengikuti Yesus Kristus itu adalah:

- hidup taat pada prior, wakil Kristus (ps. 4, 22-3)
- solitudo (ps. 6)
- merenungkan hukum Tuhan, berjaga dalam doa, mendaraskan mazmur, merayakan ekaristi (ps. 10, 11, 14)
- hidup miskin (ps. 12)
- menyangkal diri dengan pantang dan puasa (ps. 16-7)
- mengenakan senjata Allah untuk peperangan rohani (ps. 18-9)
- melakukan semua dalam Sabda Allah (ps. 19)
- kesediaan untuk menjalani penganiayaan (ps. 18)
- keheningan (ps. 21)

Kristosentrisme Regula kita ini rupanya jarang dibahas padahal hal ini merupakan hal pokok dan amat penting dalam hidup seorang Karmelit. Dalam konteks Kristosentrisme Regula kita ini peranan Elia dan Maria (yang sering tampak lebih dominan daripada Kristus) sebenarnya hanya implisit saja. Elia dan Maria sebenarnya adalah model bagi mereka yang mau sungguh hidup mengikuti Kristus. Jika sebagai Karmelit engkau mau mengikuti Kristus secara sungguh, lihatlah dan contohlah hidup Elia dan Maria. Jadi bagi seorang Karmelit, Kristuslah yang utama, setelah itu Elia dan Maria.

Anak Domba Allah
Dalam Kitab Suci dan dalam liturgi, salah satu gelar Yesus yang dikenakan padaNya adalah Anak Domba Allah. Untuk mengerti makna gelar ini dengan baik kita perlu melihat kembali pengertian tentang anak domba dalam tradisi Israel dan kemudian mengapa Yesus disebut sebagai Anak Domba Allah

Anak domba
Anak domba adalah binatang yang lucu, manis, dan polos. Bulunya yang putih bersih seperti kapas dan mukanya yang masih kanak-kanak sangat menarik. Karena masih bayi, anak domba tergantung pada induknya dan sangat tergantung pada perlindungan dari si penggembala. Oleh karena itu anak domba menjadi simbol kelembutan, kesederhanaan, penuh kepercayaan (Mzm 23; 100:3; Yes 40:11; Mat 11:29). Ciri-ciri ini dimiliki oleh Yesus.

Anak domba adalah bahan korban bakaran/persembahan. Berbagai macam kesempatan persembahan menggunakan anak domba sebagai korban. Misalnya: disembuhkannya orang kusta (Im 14:10-32), pembersihan ibu setelah melahirkan dan korban tebusan anak sulung (Kel 34:20), penyucian altar (Bil 7:15-17), singkatnya bagi orang Yahudi anak domba adalah binatang korban, binatang untuk silih, pemulihan hubungan Allah dengan manusia.

Penggunaan anak domba sebagai korban amat berakar pada sejarah Israel pada peristiwa paskah (Kel 12). Kata pascha bisa berarti pestanya maupun anak domba korban (bdk. Yoh 18:28). Pada waktu Allah menghukum mati semua anak sulung Mesir, orang Israel diselamatkan dan dibebaskan dari kematian itu oleh karena darah anak domba yang dioleskan pada pintu-pintu rumah Israel. Kematian anak domba amat diperlukan untuk keselamatan Israel.

Anak Domba Allah
Segala ciri anak domba ini ada pada Yesus, maka Yesus disebut sebagai Anak Domba Allah. Yesus adalah pribadi yang lemah lembut, sederhana, penuh kepercayaan pada Bapa. Yesus juga adalah korban untuk silih, untuk memulihkan hubungan antara Allah dan manusia, yang kematianNya diperlukan untuk keselamatan umat manusia. Bahkan Injil Yohanes mau menampilkan Yesus sebagai Anak Domba Paskah. Di dalam Injil Yohanes penyaliban Yesus terjadi sebelum perayaan Paskah (Yoh 18:28, 19:14), pada saat yang sama anak domba Paskah disembelih di Kenisah oleh para imam. Yesuslah Sang Anak Domba Paskah yang darahNya menjadi silih dan sarana pembebasan dosa manusia. Yesus, Sang Anak Domba Allah dilihat sebagai puncak pengorbanan yang membuat korban-korban anak domba yang lain tidak ada artinya lagi (Ibr 10:8-10). Sang Anak Domba Allah adalah korban persembahan yang paling sempurna!

Gelar Yesus sebagai Anak Domba Allah disenangi oleh umat Kristen. Oleh si Pelihat dari Patmos gelar Anak Domba Allah mendapatkan makna yang lebih lengkap. Jika dalam Injil dan dalam Surat-surat Pastoral Anak Domba Allah bermakna kelembutan dan korban, dalam Kitab Wahyu atributNya ditambah dengan kemuliaan, kekuasaan, hormat dan puji-pujian (Why 5:12).

Dalam Kitab Wahyu sifat lembut masih melekat pada Sang Anak Domba Allah, tapi Dia yang lembut itu membebaskan dan memenangkan kita dari kuasa si jahat (Why 12:10-11; 14:10), mempimpin kita pada kehidupan (7:17), mempunyai kuasa dan kekuatan sempurna yang dilambangkan dengan 7 mata dan 7 tanduk (5:6), buku kehidupan adalah milikNya (13:8; 21:27), ditanganNya ada pembalasan (6:16), menguasai sejarah (6:1). Ia adalah kenisah (21:22) dan terang dalam kehidupan kekal (21:23). Maka dari itu Ia pantas dipuji dan disembah (5:12-14)!

Menarik sekali untuk kita simak bersama “perjalanan” hidup Yesus, Sang Anak Domba Allah. Flow-nya berjalan demikian:

1. Yesus, Sang Anak Domba Allah itu adalah pribadi yang lemah lembut, polos, dan sederhana.
2. Hidup Yesus bergantung penuh pada kuasa dan kehendak BapaNya.
3. Yesus berjuang mengenyahkan kuasa kejahatan, namun bukan dengan kekerasan dan kuat kuasa namun dengan “taat pada Bapa sampai mati, mati di kayu salib” (Flp 2:8). Ia menjadi korban sembelihan seperti anak domba paskah.
4. Ia menang atas kuasa kejahatan oleh karena salib, oleh karena Ia telah disembelih.
5. Maka dari itu Yesus menerima kemuliaan dan kuasa yang besar, yang tiada orang dapat mengungguliNya.

Dari sini bisa kita lihat bahwa dinamika hidup Yesus adalah suatu dinamika perjalanan kenosis yang sehabis-habisnya, namun karenanyalah kemenangan agung didapatkan. Suatu kemenangan yang gilang gemilang yang dinyanyikan dengan lantang oleh Paulus dalam ekstase rohaninya: “Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama, supaya dalam nama Yesus bertekuk lutut segala yang ada di langit dan yang ada di atas bumi dan yang ada di bawah bumi, dan segala lidah mengaku: "Yesus Kristus adalah Tuhan," bagi kemuliaan Allah, Bapa!” (Flp 2:9-11)


Hidup Mengikuti Anak Domba Allah?
Mari kita kembali ke tema semula, yakni hidup seorang Karmelit dan bagaimana perjuangan demi keadilan dan perdamaian dapat kita lakukan. Kita perlu ingat lagi bahwa hidup Karmelit, termasuk perjuangan demi keadilan dan damai, diringkas dengan rumusan singkat namun amat padat: mengikuti Yesus Kristus. Kemudian bagaimana “mengikuti” itu diuraikan lebih rinci dalam tubuh Regula, seperti tercantum di atas.

Saya melihat bahwa dinamika hidup Karmel dalam Regula berpadanan erat dengan dinamika hidup Yesus, Sang Anak Domba Allah. Bukankah dinamika hidup Karmelit - yang hidup taat, dalam kesendirian dan keheningan, dalam merenungkan hukum Tuhan, berjaga dalam doa, mendaraskan mazmur, merayakan ekaristi; dalam hidup miskin dan menyangkal diri dengan pantang dan puasa; dalam mengenakan senjata Allah untuk peperangan rohani, melakukan semua dalam Sabda Allah, dan kesediaan untuk menjalani penganiayaan, dan jika semuanya dihayati, “Tuhan sendiri akan memberikan ganjaran kepadanya pada waktu Ia datang kembali” (Reg. ps. 24) - adalah dinamika hidup Sang Anak Domba Allah juga?

Saya pribadi menawarkan suatu dasar refleksi teologis bagaimana hidup mengikuti Kristus itu dengan bagaimana hidup seturut Yesus, Sang Anak Domba Allah. Jadi sampai di sini beranikah kita juga menyebut bahwa:

In obsequio Jesu Christi = In obsequio Agni Dei ?


Pertanyaan untuk refleksi:

Bagaimanakah hidup mengikuti Sang Anak Domba Allah itu dapat menjadi sumbangan khas Karmel bagi perjuangan keadilan dan perdamaian?



Kekuasaan dan Ketenaran Politis
Banyak kaum religius yang bergaya profetis tapi tak profetis, hanya sekedar ikut arus supaya dilihat bahwa hidupnya “mendarat.” Lebih menyedihkannya lagi, tampilnya yang “mendarat” itu lalu beriringan dengan semangat mengkritik dan mencurigai setiap latihan rohani, serta menganggap semuanya itu sebagai usaha kuno untuk “fuga mundi.” Percakapan politik lebih menarik hati daripada sharing pengalaman iman. Padahal jika orang-orang bisnis mengadakan dinner, pasti yang mereka bicarakan adalah seputar hal bisnis, finansial, pasar, sesuai dengan profesi mereka sebagai bisnisman. Akan tetapi apa yang terjadi di meja makan kaum religius? Pembicaraan politik? Ketakutan untuk sharing iman, karena takut dianggap sok saleh dan hidup melayang-layang?

Dalam usaha untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian, yang mau tidak mau bersentuhan dengan dunia politik kitapun sering kehilangan arah, dan terkena rayuan berbahaya dari kekuasaan dan ketenaran politis. Bahkan akhir-akhir ini ada seorang uskup yang mencalonkan diri untuk menjadi presiden. Formasiopun diarahkan pada trend politis ini, sehingga hidup doa diabaikan, karena rupanya in the midst of the people itu lebih perlu daripada doa. Kita perlu belajar dari trial and error komunitas Karmel di Filipina, di mana ada joke bahwa “Carmelite” di sana lebih dikenal dengan “Armelite.” Sampai di sini kita perlu bertanya dengan jujur dan kritis: Begitu dangkalkah pengertian kita tentang berpolitik dan menjadi seorang nabi yang memperjuangkan keadilan dan perdamaian? Belum cukupkah pengalaman gelam dan pahit caesaropapisme dari sejarah Gereja?

Di sisi lain, dalam Konstitusi ps. 18 tertulis: “Praktek kontemplasi bukan hanya merupakan sumber hidup rohani kita, tetapi juga menentukan mutu hidup persaudaraan dan pelayanan kita di tengah umat Allah.” Ini berarti keterlibatan kita dalam gerakan politis untuk memperjuangkan keadilan dan perdamaian harus mempunyai landasan hidup rohani yang kuat dan mantap, yang tanpanya perjuangan kita itu menjadi tidak bermutu. Dalam surat bersama para Jendral O.Carm-O.C.D. tahun 1999 dalam kesempatan persiapan memasuki millenium baru, tertulis, “Kontemplasi, inti dari kharisma Karmel, menemukan ungkapan spontannya dalam cinta akan sesama. Ini menuntun kita untuk bertanya mengapa terjadi banyak ketidakadilan dalam dunia kita ini. Komitmen pada keadilan dan perdamaian sangat serasi dengan panggilan kontemplatif kita.”

Diarmuid O’Murchu, seorang imam dan psikolog sosial menjelaskan dengan apik apa artinya menjadi profetis itu: “Seorang nabi mendorong dan memperkuat orang untuk terlibat dalam sejarah, namun kenabian bukan hanya suatu gerakan di sini dan sekarang, yang begitu tenggelam dalam realitas saat ini dan terserap di dalamnya...Seorang nabi dipanggil untuk menumbuhkembangkan harapan. Tepatnya karena pribadi atau gerakan profetis terlibat dalam penderitaan dan kerumitan hidup serta menolak untuk dikalahkan oleh kejahatan. Sang nabi mencari jalan untuk terus bertumbuh dan terus bertahan.” Jadi menjadi nabi keadilan dan perdamaian bukan berdasarkan pada trend, tetapi berdasarkan pada suatu hidup rohani yang mendalam.


Disembelih, namun menerima Kuasa
Jika kaum religius sering terjebak untuk “memakai cincin kuasa,” yang menggoda siapapun yang mendekat padanya, Kristus malah menolak kuasa. Sejak awal sampai akhir Kristus sangat konsisten untuk menolak kuasa. Pada awalnya Kristus melepaskan kuasaNya yang setara dengan Bapa (Flp 2:6-7). Sebelum memulai karyaNya Kristus bergulat dengan si jahat untuk menolak kuasa (Mat 4:1-11). Pada akhirnya, Kristus juga mati tanpa kuasa apa-apa di kayu salib.

Kristus menolak kuasa, karena Ia tahu bahwa kuasa itu setan (diabolic). Namun justru karena Ia menolak kuasa dan menjadi lepas bebas terhadap kuasa duniawi itu, Ia malah mendapatkan kuasa yang jauh lebih besar dan agung. Teringatlah kita akan lantunan nada puisi sang mistikus besar kita, St. Yohanes dari Salib: “Untuk dapat memiliki segala, jangan mau memiliki apapun. Untuk dapat menjadi segala, jangan mau jadi apapun.” Inilah jalan hidup Sang Anak Domba Allah. Inilah yang harusnya menjadi model dari bagaimana seharusnya perjuangan para Karmelit untuk keadilan dan perdamaian.

Di tengah sikap ingin berkuasa dalam menyelesaikan permasalahan keadilan dan perdamaian, kita dapat menawarkan kalimat ajaib ini: "Anak Domba yang disembelih itu layak untuk menerima kuasa, dan kekayaan, dan hikmat, dan kekuatan, dan hormat, dan kemuliaan, dan puji-pujian!" (Why 5: 12)

Sungguh aneh teks ini bunyinya! Mari kita cerna sekali lagi: “Anak Domba - yang disembelih itu - layak menerima kuasa.” Aneh bukan? Mengapa anak domba yang lemah itu yang menerima kuasa? Bukankah anak domba itu lembut dan tidak sekuat dan segagah singa, misalnya? Imaginasinya semakin aneh ketika kata “disembelih” disertakan di sana. Disembelih adalah berada dalam keadaan tak berdaya sama sekali, keadaan yang mendekati kematian, atau bahkan sudah mati. Akan tetapi mengapa justru “Anak Domba yang disembelih” yang menerima kuasa?

John Howard Yoder menjelaskan bahwa “Kalimat ini bukan melulu suatu paradoks yang tidak dapat dimengerti, tapi suatu afirmasi yang penuh arti, bahwa salib dan bukan pedang, penderitaan dan bukan kuasa brutal yang menentukan arah gerak sejarah.” Aneh bukan? Memang, jalan salib, jalan disembelih, jalan Anak Domba ini nyleneh dan aneh, tapi itulah jalan yang mesti ditempuh oleh para Karmelit yang berani berasaskan hidup in obsequio Jesu Christi.

Tentu kita akan berpikir bahwa jalan “tersembelih” ini adalah jalan yang tidak masuk akal dan tidak efektif. Memang, sebagai manusia lemah kita cenderung untuk memilih jalan pintas untuk menyelesaikan segala masalah. Ketidakadilan yang kita hadapi cenderung ingin kita lawan pula dengan ketidak adilan yang lain. Lalu pertanyaan moral yang timbul adalah: “Apakah kita boleh melakukan kejahatan, supaya kebaikan keluar darinya?” Allah tentu saja dapat menggunakan kuasaNya yang dahsyat untuk menghancurkan struktur yang tidak adil beserta orang-orangnya, tapi mengapa jalan ini tidak ditempuh Allah? Lalu mengapa yang Allah tawarkan malah jalan yang rumit dan sulit yakni kematian di salib? Mengapa Anak DombaNya yang menang jaya itu harus disembelih?

Yoder menjelaskan bahwa justru dengan salib segala macam ketidakadilan sedang ditelanjangi. Jalan ini akan sangat profetis dan sekaligus juga efektif untuk “menyerang” ketidakadilan di dunia ini. Perang Sang Anak Domba Allah harus kita kobarkan dalam membela keadilan. Suatu perang yang melawan kekerasan dengan kelembutan, keinginan untuk berkuasa dengan menjadi tak berkuasa, keinginan untuk menjadi segala sesuatu dengan tidak mengingini segala sesuatu. Inilah perang yang mengandaikan sikap mistik lepas bebas yang mendalam. Yoder kembali mengingatkan kita,

“Kristus telah menang atas kuasa-kuasa dunia. Penelanjangan itu adalah kekalahan mereka...dalam Kristus Allah telah menantang kuasa-kuasa itu, Ia telah menerobos benteng mereka, dan Ia telah menunjukkan bahwa Dia lebih kuat daripada mereka. Bukti nyata dari kemenangan ini adalah bahwa di salib Kristus telah melucuti senjata kuasa-kuasa itu...Ditelanjangi, disingkapkan wajah mereka yang asli, mereka telah kehilangan kekuatan untuk mencengkeram kita. Salib telah melucuti mereka: di manapun salib diwartakan, di situ penelanjangan dan pelucutan senjata dari kuasa-kuasa terjadi.”

Sebagai pribadi dan sebagai komunitas, kita diundang untuk mengikuti jalan salib, jalan tersembelih ini agar perjuangan kita untuk “menyerang” ketidak adilan dengan kuasa salib, kuasa darah Anak Domba (Why 5:9) itu menjadi nyata bagi kuasa-kuasa dunia yang menyombongkan diri.

Kita jadi teringat pula bagaimana Konstitusi ps. 111 mengarahkan perutusan kita untuk mewujudkan keadilan dan perdamaian di dunia juga menuturkan hal senada:

“Kita hidup dalam dunia yang penuh ketidakadilan dan keresahan. Tugas kita adalah untuk membantu menemukan penyebab keadaaan in, solider dengan penderitaan kaum pinggiran, berpartisipasi dalam perjuangan mereka bagi keadilan dan perdamaian, berjuang bagi pembebasan mereka seutuhnya, dan membantu mereka mewujudkan kerinduan mereka akan hidup yang layak.”

Juga dalam Konsitusi ps. 115, di mana sebagai Karmelit kita diundang untuk:

“menempuh jalan keadilan dengan melawan ideologi palsu dan menuju pengalaman konkret akan Allah yang hidup, jalan solidaritas dengan membela dan memihak pada korban ketidakadilan, jalan mistik dengan berjuang bagi kaum miskin untuk memulihkan kepercayaan pada diri sendiri dengan membarui kesadaran mereka bahwa Allah ada pada pihak mereka.”

Jalan Sang Anak Domba ini lebih sesuai dengan profesi kita sebagai kaum religius. Jalan ini akan sangat berdayaguna apapun bentuk kegitan profetis yang kita lakukan. Entah dengan menjadi pertapa, maupun kalau akhirnya kita didorong oleh Roh Kudus untuk bergerak di lapangan politik.


Keberanian Mengikuti Sang Anak Domba
Mengikuti Yesus Kristus bukan suatu yang mudah. Yesus pernah bersabda, “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Mat 16:24) Kita sering takut akan ajakan Yesus ini. Akan tetapi bukankah ini seharusnya adalah cara hidup/formula vitae kita? Hidup Karmelit kita dalam hal memperjuangan keadilan dan perdamaian haruslah sungguh mewartakan kemenangan salib Kristus, seperti Paulus yang berkata, “Orang-orang Yahudi menghendaki tanda dan orang-orang Yunani mencari hikmat, tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan, tetapi untuk mereka yang dipanggil, baik orang Yahudi, maupun orang bukan Yahudi, Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah. Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya dari pada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat dari pada manusia.” (1 Kor 1:22-25) Memang butuh keberanian untuk menanggapi ajakan Yesus ini. Menjadi berani adalah menjalankan salah satu keutamaan moral. Sudah cukup beranikah kita mengambil risiko untuk mengikuti Sang Anak Domba Allah?

Perjuangan keadilan dan perdamaian kita bukanlah sekedar trend atau ikut-ikutan arus zaman, tapi suatu gerakan berdasarkan hidup rohani yang mendalam dan ex abundantia cordis. Perjuangan itu pasti berat karena tantangannya begitu besar. Kita tidak dapat berjalan sendiri, kita harus berjalan bersama Kristus dan mengandalkan Kristus. Sudah banyak contoh kegagalan dan kehancuran yang terjadi jika kita hanya mengandalkan diri sendiri.

Kapitel Jendral 2007 bertemakan “In Obsequio Jesu Christi: Sebuah Komunitas Pendoa dan Profetik di tengah Dunia yang sedang Berubah.” Saya kira ini semua dimaksudkan agar sebagai Karmelit kita berani untuk membentuk suatu komunitas pendoa dan profetis yang dengan berani pula mewartakan: “Kami senantiasa membawa kematian Yesus di dalam tubuh kami, supaya kehidupan Yesus juga menjadi nyata di dalam tubuh kami.” (2 Kor 4:10) Salib Kristus yang kita hidupi dalam komunitas itu adalah model dari perjuangan keadilan sosial Kristiani kita yang berdaya-guna, karena kita percaya akan kuasa Allah yang bekerja melalui salib Kristus itu. Pada akhirnya inilah sumbangan khas spiritualitas Karmel bagi pengembangan keadilan sosial.

Vicit agnus noster, eum sequamur

Anak Domba kita telah menang, marilah kita mengikutiNya.

Rekoleksi Para Karmelit
Benny Phang, O.Carm
Malang, 18-19 April 2007

Working


You must give yourselves to work of some kind, so that the devil may always find you busy; no idleness on your part must give him a chance to pierce the defences of your souls. In this respect you have both the teaching and the example of Saint Paul the Apostle, into whose mouth Christ put his own words. God made him preacher and teacher of faith and truth to the nations: with him as your leader you cannot go astray. We lived among you, he said, laboring and wary, toiling night and day so as not to be a burden to any of you; not because we had no power to do otherwise but so as to give you, in your own selves, an example you might imitate. For the charge we gave you when we were with you was this: that whoever is not willing to work should not be allowed to eat either. For we have heard that there are certain restless idlers among you. We charge people of this kind, and implore them in the name of our Lord Jesus Christ, that they earn their own bread by silent toil. This is the way of holiness and goodness: see that you follow it.

Carmelite Rule, 20.

Monday, February 25, 2008

Dies irae, dies illa


Brothers and sisters in Jesus Christ,
If the Christian fundamentalists hear the Gospel of Mark 13: 14-32, they will preach that Christ’s second coming is imminent, and that is why we should to do this and that, and not doing this and that. They will have seminars “On the Last Day” based on this Gospel, or the traditionalists will sing again in fear the old pessimistic hymn:

“Dies Irae, Dies Illa,
Solvet saeculum in favilla:
Teste David cum Sibylla.
Quantus tremor est futurus,
quando Iudex est venturus,
cuncta stricte discursus!”

(The day of wrath, the day it is,
where everything is destroyed in ashes forever:
David and Sybilla foretold.
How great fear is imminent,
when the Judge is coming,
all are running everywhere in narrow place).

Facing this kind of people, we’d better listen to Jesus: “Beware that you are not led astray; for many will come in my name and say, ‘I am he!’ and ‘The time is near!’ Do not go after them.

We misunderstand the Gospel if we interpret the Gospel that way. We still believe that Jesus will come for the second time to judge the living and the dead, but on the time nobody knows, only the Father knows. So, why we bother ourselves with analyzing such data or phenomena of the coming of the Lord? Jesus will come like a thief in the night. So only the vigilant persons will be saved, that’s all.

This periscope of the Gospel actually speaks of the spiritual resources to cope with adversity and hardship. So the key phrase to understand this periscope of the Gospel is: “Do not be afraid!” In times of distress do not be afraid. Why does Jesus say that? Because He knows that being His followers is living in a risky condition, especially in dealing with the wicked authorities. Here Jesus gives an encouragement to his disciples not to be afraid.

Do not be afraid. This phrase is so short, but it is really difficult to live it. Fear and worries color our life daily. We are afraid that we cannot do the papers due tomorrow. We are afraid whether what we have done could please our friends or not. We are afraid that we cannot finish the job that we have started. We are afraid of green spider toys laid on our bed.

We are afraid because we want to avoid suffering. We can do anything to avoid it. But we forget, that unavoidable suffering makes us as a Church mature. The suffering Church is the true Church, as her head is the Suffering Servant of Yahweh. That is why Jesus warns us his disciples, that if we follow Him seriously, we will suffer, but do not afraid. If we look at the history of the Church, the Church becomes so strong because it is based on the blood of the martyrs, “sanguis martyrum, semen Christianorum” (the blood of the martyrs is the seeds of the Christianity). And the Church in persecution bore many holy children and greatest saints.

But just compare when the Church became rich, powerful, and had its worldly position, which we call caesaropapism. The Church became weak in its spirit and became corrupted in its works and ministry, even then people called this era as the Dark Ages. Nothing was needed by the Church at that time, but reformations. But remember, the reformers were and are also persecuted, tortured, even killed. However, from this torture, many great holy men and women endured in their suffering, and from their suffering life appeared such great mystics thoughts and writings such as: Dark Night, Foundations, and previously: Paul’s letter from the prison, Ignatius from Antiokhia’s letter on the journey to Rome to be punished in circus there, etc.

Dear brothers and sisters, being not afraid in our life is difficult. That is why let us ask Jesus to always tell us and remind us that He is the Immanuel, God is with us, so that when unavoidably we are facing suffering, we are not afraid, and keep faithful to Him until death. Since he said to us in the book of Revelation: “DO NOT FEAR WHAT YOU ARE ABOUT TO SUFFER. BE FAITHFUL UNTIL DEATH, AND I WILL GIVE YOU THE CROWN OF LIFE” (Rev. 2:10).

Sunday, February 24, 2008

The Second Mansion


How fortunate it is to be able to find all that it needs, as it were, at home, especially when it has a Host Who will put all good things into its possession, unless, like the Prodigal Son, it desires to go astray and eat the food of the swine!

It is reflections of this kind which vanquish devils. But, oh, my God and Lord, how everything is ruined by the vain habits we fall into and the way everyone else follows them! So dead is our faith that we desire what we see more than what faith tells us about -- though what we actually see is that people who pursue these visible things meet with nothing but ill fortune. All this is the work of these poisonous creatures which we have been describing. For, if a man is bitten by a viper, his whole body is poisoned and swells up; and so it is in this case, and yet we take no care of ourselves. Obviously a great deal of attention will be necessary if we are to be cured and only the great mercy of God will preserve us from death. The soul will certainly suffer great trials at this time, especially if the devil sees that its character and habits are such that it is ready to make further progress: all the powers of hell will combine to drive it back again.

Ah, my Lord! It is here that we have need of Thine aid, without which we can do nothing. Of Thy mercy, allow not this soul to be deluded and led astray when its journey is but begun. Give it light so that it may see how all its welfare consists in this and may flee from evil companionship. It is a very great thing for a person to associate with others who are walking in the right way: to mix, not only with those whom he sees in the rooms where he himself is, but with those whom he knows to have entered the rooms nearer the centre, for they will be of great help to him and he can get into such close touch with them that they will take him with them. Let him have a fixed determination not to allow himself to be beaten, for, if the devil sees that he has firmly resolved to lose his life and his peace and everything that he can offer him rather than to return to the first room, he will very soon cease troubling him. Let him play the man and not be like those who went down on their knees in order to drink when they went to battle -- I forget with whom -- but let him be resolute, for he is going forth to fight with all the devils and there are no better weapons than the Cross.

(St. Teresa Avila, Interior Castle)

Haburot


There are parts of the gospel talking about the controversy between Jesus and the Pharisees. People often think that the Pharisees had a lot of problems, and so do the Jews now. Actually, by telling this controversy, the author of the gospel wants to teach us about our own conducts, not of the Jews.

In the Gospel of Luke 11:37-42, the Pharisees strongly criticize Jesus, because Jesus doesn’t wash his hands before eating. The Pharisees criticize Jesus not about hygienic matters, but more about ritual matters. This ritual is called haburot. It is a ritual purity, especially after performing exorcism and after being in contact with people. Remember the gospel readings of last week: Jesus performed exorcism and taught the crowds. The Pharisees criticize him as unclean, since he is eating without washing his hands. Here, the Pharisees are bewildered by something that is really unnecessary. They turn the ritual matters to the moral matters. As if they say, “You, Jesus, are morally unclean, since you don’t wash your hands before eating as the rituals said!

However, Jesus’ reaction is amazing and surprising, the NIV’s translation writes, “But give what is inside the dish (what you have) to the poor, and everything will be clean for you.” Jesus is so clever. If the Pharisees twist the ritual law to the moral law, Jesus twists it back by emphasizing the importance of giving the food within the dish as alms, as the sign of ritual purity. Jesus doesn’t to be bothered by unnecessary ritual matters just for the sake of the ritual itself. Instead, he really emphasizes the social aspect of the ritual. That’s why he easily changes the debate from just the ritualistic view to the social view. By saying this, Jesus also justifies what he just did, that is, exorcism and teaching the crowds, are not something that make him or people unclean ritually, but make them clean ritually instead.

Many people think that the ritual purity is above all things, and this ritual makes people holy. Jesus doesn’t think so. The ritual can make people holy, but not automatically makes people holy. The ritual for the sake of the ritual is useless. And Jesus is always bothered with it. There is a story from the Eastern tradition.

There were a master and his disciples who sat down to worship in their Buddhist temple. Each evening the monastery cat would get in the way, this black cat also always meowed terribly. It really distracted the worshipers. So the master ordered that the cat be tied during evening worship.

After the master died the cat continued to be tied during evening worship. And when the cat died, another cat was brought to the monastery so that it could be duly tied during evening worship.

Centuries later, the master’s scholarly disciples wrote academic book on the liturgical significance of tying up a cat while worship is performed. The title of the book was “THE IMPORTANCE OF THE ROPE AND BLACK CAT IN THE LITURGICAL CEREMONY IN WORSHIPING GOD THE ALMIGHTY.” Impressed by this highly academic work, that community made this argument as an eternally unchanged dogma.

What a silly liturgical tradition and regulation!

Don’t be surprised that there are many modern Pharisees who do not know the life of the people in grass root promulgate unimportant liturgical regulation. These regulations, for example, forbid priest to give signs of peace, forbid cultural dances, clapping hands, altar girls in the mass. Perhaps those people consider shaking hands, dances, clapping hands, or women/girls as ritually unclean. Isn’t it a new kind of haburot / ritual cleanness, which really bothers Jesus?

Eucharist is a celebration of our faith on the death and resurrection of Christ. A celebration should have a social aspect. If a celebration really touch the very heart of the people, people can be moved to giving alms, or in other sense, people are moved to do many necessary social works. Eucharist can be a power that moves the society, as it was in the life of the early Church, if only there was no haburot.

We’d better listen to Jesus!

Friday, February 22, 2008

You babies!


Have you called someone special to you with “BABE”?

Yes, “babe” is a nick-name for our loved ones. We are happy if someone special to us call us “babe,” “my baby.”

Paul calls the Corinthians (1Cor 4: 1-21) as “babies of Christ!” Not in a lovely meaning as we have here, but in a pejorative meaning. It means that the people of Corinth are just childish, immature people as opposed to wise and spiritually mature persons.

What makes Paul call them babies? Immaturity of the people of Corinth, which is expressed in jealousy, quarrelling, and factionism: I like Apollos, I like Paul. These kind of attitudes which make Paul call them babies, who only can drink milk, but cannot digest hard foods.

I think the problem of the people of Corinth is ours as well. We are jealous to the success of our brothers and then try to put him down not because he did wrong, but because he did something better than us. We don’t be happy with our brothers’ successes, but we are jealous of it. It’s like a kid who cries aloud because her buddy got a bigger candy than hers. We also like to quarrel and keep quarrelling. If we find problem, we tend to keep quarrelling rather than working hard, again and again to resolve the problem. It’s kind of childish attitude. We also tend to create fractions. Just look when you work in a parish, people act like the people of Corinth, saying, “Oh…I like and prefer Fr. John, since he is an mature man, and he is the pastor. I don’t like Fr. Ben, since he’s just a young, inexperienced boy, and he’s just ordained and just become the associate pastor. It’s like a child who’s looking protection under the arm of his mom or his dad, when his mom or dad is angry to him of his mistakes.

Paul criticizes the people of Corinth and also us, by encouraging us to see him and Apollos as models in spiritual life. He is against fractions between the people and also against jealousy and quarrelling. He claims that he and Apollos are just the servants of God. Nothing more, we are servants. And why we have such high “position” (if you call so), it is just because we are assigned by God. We don’t assign ourselves for this duty.

Paul also encourages a team work rather than destroying someone else’s work of success. He explains that he who plants, Apollos who waters, and that’s it. But we work together. But we also know that God who gives growth. Not us.

Paul shows to us the maturity of his life. He encourages us to do so as well. And he discourages us to live with immaturity. Let us follow his steps, and don’t let Paul, from heaven above call us: “You’re just babies!”

Thursday, February 21, 2008

New Springtime


Siaran Radio Surabaya, Desember 2006

I Timotius 4: 12
“Jangan seorang pun menganggap engkau rendah karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”


Shalom sobat muda,

What’s up? Saya harap kalian semua sungguh dalam keadaan bahagia karena diberkati Tuhan. Amin.

Tau nggak para sobatku bahwa Setan ternyata sekarang sudah ikut-ikutan manusia untuk berbisnis. Tentunya untuk berbisnis ia membutuhkan modal bukan? Maka dari itu ia mulai menggadaikan barang-barang yang ada padanya. Ternyata barang-barang itu adalah senjata-senjata ampuhnya! Diambilnya perlengkapan senjata itu dari lemari penyimpanannya. Senjata-senjat itu antara lain: kedengkian, kebencian, iri hati, kecemburuan, keserakahan, nafsu dan tipu muslihat. Ini semua benda-benda ampuh yang berharga bagi bisnis para setan.

Namun si setan bisnisman ini kemudian merasa sayang dengan satu barang yang berbentuk seperti kapak tajam itu. Senjata itu tampak sering dipakai olehnya sehingga masih terasah tajam.

Seekor setan lain bertanya padanya, “Bung, ini barang apa, kok kamu merasa sayang untuk menggadaikannya?”

Jawabnya, “Wah mahal sekali ini senjata. Nenek moyangku mewariskannya turun temurun, sejak kita terlempar keluar dari Taman Eden.”

“Apa sih nama senjata ampuh ini Bung?” tanya setan petugas gadai.

“Ini namanya kapak KE-PUTUS-ASA-AN.”

“Lalu mengapa harga senjata ini lebih mahal daripada yang lainnya? Kelihatannya yang lain juga hebat-hebat.”

“Sebab,” jawab setan bisnisman, “dengan senjata itu aku dapat membuka dan masuk ke dalam alam sadar seseorang. Dengan alat lain aku tidak dapat mendekati mereka dan melakukannya. Begitu kapak keputusasaan membelah seseorang dan masuk ke dalam dirinya, barulah aku dapat menggunakan senjata yang lain untuk merusak orang tersebut.”

“Jadi kamu tetap tidak mau menggadaikan senjata itu?”

“Nggak ah, dengan senjata ini bisnis jiwa-jiwaku untuk neraka akan mendapatkan untung yang banyak! Hahahaha!”

Maka mulailah setan bisnisman mencari mangsa untuk dapat menancapkan kapak tajam yang berbahaya itu.

Keadaan kita hidup sekarang ini memang penuh dengan tantangan yang menakutkan. Di mana saja, tanpa kecuali!

Jika kita mengira bahwa di luar negeri keadaannya akan menjadi lebih baik, saya kira juga tidak. Memang baik secara ekonomis ataupun keamanan hidup, tapi tantangan besar lain masih menanti juga.

Kita juga menghadapi situasi yang amat memprihatinkan di negara kita.
Misalnya saja:

- Hukum dipermainkan. Hakim akan bungkam kalau disuap dengan uang. Di jalanan hukum lalu lintas bisa dibeli hanya dengan, “Damai Pak, nih Rp. 20.000.” Di hadapan kaum berduit hukum seolah bungkam.

- Juga dengan korupsi. Oh mengerikan sekali! Dari orang di pusat sana sampai di pelosok-pelosok korupsi merajalela, seolah-olah situasi berkata, “Lu kalo nggak korup berarti ketinggalan jaman. Korup kan trendy!”

- Korup ini tidak tanggung-tanggung, sampai-sampai uang sumbangan untuk bencana alam juga dikorup! Apa nurani orang-orang itu sudah bisu tuli??? Masakan orang lain menderita, mereka yang sudah berkecukupan malah menjejali diri mereka dengan uang yang seharusnya menjadi hak orang kecil untuk menyambung hidup. Mengerikan sekali.

- Lumpur LAPINDO yang menutupi Porong-Sidoarjo adalah dampak lain dari kesemberonoan dan mental korup. Dimana teriakan orang kecil? Diabaikan! Lebih menyakitkannya lagi, di tengah orang kecil yang bersedih kehilangan kampung halaman mereka, orang-orang di atas sana melakukan transaksi areal LAPINDO. Sungguh manusia-manusia yang tak bernurani!

- Belum lagi aborsi yang merebak dimana-mana, di tempat-tempat gelap, dimana orang tidak dapat melihat dengan jelas. Bumi ini dipenuhi nyawa-nyawa si kecil yang tak berdosa setiap detiknya.

- Narkoba merasuk sampai ke tempat-tempat pendidikan. Bahkan para penegak hukumpun ikut terlibat dalam berbisnis narkoba.

- Agama Allah di sana sini dipakai untuk membenarkan tindakan jahat kelompok-kelompok tertentu. Nama Tuhan dipakai-pakai untuk menghancurkan orang lain.

Kita ini seolah-olah menanti dalam masa seribu tahun agar kejahatan itu dihancurkan dan dilenyapkan dari muka bumi ini.

Apakah keadaan ini lalu membuat kita TAKUT?
Apakah keadaan ini kemudian membuat kita PUTUS ASA???
JANGAN DOOOONGGGGGGGGGG!!!

Dalam minggu-minggu awal masa Adven ini kita diingatkan oleh Gereja akan realitas akhir zaman. Kebanyakan kita mendengar tentang realitas ini dengan takut, karena banyak pembicara yang dengan gegabah menafsirkan akhir zaman sebagai suatu akhir yang menakutkan umat beriman. Tidaklah demikian, Kitab Wahyu malah memberikan harapan yang pasti: Kristus telah menang, Kristus sedang menang, dan Kristus akan menang.

Dalam Wahyu 20: 9-10 ditulis:

“Tetapi dari langit turunlah api menghanguskan mereka, dan Iblis, yang menyesatkan mereka, dilemparkan ke dalam lautan api dan belerang, yaitu tempat binatang dan nabi palsu itu, dan mereka disiksa siang malam sampai selama-lamanya.”

Maksud dari ayat ini adalah kekuatan dan kekuasaan kejahatan ada batasnya. Si jahat sudah dilumpuhkan oleh darah Kristus yang tercurah di salib, dan si jahat kelak akan dikalahkan secara definitif waktu Kristus datang kembali!

Kemudian Wahyu 21:1-2 melukiskan dengan indah bagaimana: Yerusalem baru akan turun dari surga.

“Lalu aku melihat langit yang baru dan bumi yang baru, sebab langit yang pertama dan bumi yang pertama telah berlalu, dan laut pun tidak ada lagi. Dan aku melihat kota yang kudus, Yerusalem yang baru, turun dari sorga, dari Allah, yang berhias bagaikan pengantin perempuan yang berdandan untuk suaminya.”

Yang dimaksud dengan Yerusalem baru adalah kerajaan kebaikan dan kebenaran akan menggantikan kerajaan dunia yang penuh dengan kebusukan ini.

Injil Luk 21: 27 juga meneguhkan pengharapan ini dengan mengatakan bahwa “Anak Manusia akan datang kembali dengan segala kekuasaan dan kemuliaanNya.” Benar saudara, bahwa Yesus akan datang lagi dengan segala kemuliaanNya yang besar.

Untuk itulah dengan penuh keyakinan mendiang Paus Yohanes Paulus II setiap kali bertemu dengan kaum muda selalu berkata, “JANGAN TAKUT.”

Dua kata ini adalah dua kata ajaib yang selalu didengungkan oleh Yesus setelah kebangkitanNya dari alam maut. Yesus meneguhkan supaya kita TIDAK TAKUT. Ia telah mengalahkan dunia ini, maka tidak perlu ada alasan untuk takut.

Ketakutan akan melumpuhkan kita. Maka kita perlu sunguh beriman akan kata-kata Yesus ini “JANGAN TAKUT.”

Murid-murid Yesus setelah mengalami salib menjadi takut, dan mereka bersembunyi di balik pintu-pintu terkunci. Yesus mendobrak pintu-pintu itu! Ia tidak ingin murid-muridNya itu takut. Ia juga tidak ingin kita TAKUT!

“TUHAN di pihakku. Aku tidak akan takut. Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku? (Mzm 118:6)” demikian seru pemazmur. Ya, benar, kalau Tuhan di pihak kita mengapa kita harus takut pada manusia, mengapa kita takut dengan kekuatan dunia ini? Bukankan seluruh semesta alam ini ada dalam kuasa tanganNya. Kita kan baru saja merayakan Yesus Kristus Raja Semesta Alam untuk menutup tahun liturgi kita minggu lalu? Sang Raja semesta alam berpihak pada kita, lalu siapa lagi yang kita takuti?

Setelah menguatkan kita kaum muda dengan seruan Yesus “Jangan takut!” Mendiang Yohanes Paulus II di awal tahun 2006 kembali menyapa kawula muda dengan menyerukan suatu harapan baru: “You are the hope of the Church, you are my hope. A new missionary age will arise, a new springtime of the Church!

Pertanyaannya sekarang apa itu “NEW SPRINGTIME” ? Apa itu Musim Semi yang Baru? Bukankah di Indonesia tidak mengenal musim semi yang indah itu, karena kita hidup di negara tropis?

A new Springtime of the Church bisa diartikan sebagai Harapan Baru Gereja atau Pembaharuan Bagi Gereja. Dan PAUS YOHANES PAULUS II dengan sangat jelas menunjuk kepada Anda kaum muda sebagai harapan bagi gereja. Gereja membutuhkan pembaharuan yang dimulai dan diprakarsai oleh kaum muda. Bukan melulu pembaharuan liturgi atau metode pengajaran iman, melainkan SEMANGAT dalam menghayati Yesus yang HIDUP yang perlu diperbaharui.

Kapak keputusasaan yang ditancapkan oleh si jahat ditangkal dengan tegas oleh mendiang Paus dengan menyebut generasi muda sebagai generasi yang penuh harapan! Sungguh suatu pujian yang berisi. Pujian yang membangkitkan semangat. Dunia menuduh kaum muda sebagai generasi yang loyo dan tak berpengharapan, Bapa Suci malah membalik fakta itu dengan menyebut Anda kalian sebagai HARAPAN GEREJA, A NEW SPRING TIME OF THE CHURCH!

Di awal tahun 2000 - an, ada suatu gerakan dalam Gereja yang terjadi hampir di seluruh Asia Pasific. Mulai dari Filipina, Korea Selatan, Malaysia, sampai dengan Australia. Roh Kudus berhembus dan menggerakkan banyak kaum muda di beberapa negara untuk mulai bangkit dan berbuat sesuatu bagi Gereja. Dan yang terjadi kemudian adalah kaum muda mulai bergerak dengan network yang ada untuk mulai saling sharring akan Visi Allah, saling menguatkan dan saling bekerja sama.

Hanya membutuhkan waktu 4 tahun untuk bangkit di kawasan Asia Pasific. Tahun 2004, Kebangkitan Kaum Muda benar-benar terjadi. Gereja yang mulai menjadi lebih HIDUP. Banyak kaum muda yang tampil untuk ambil peranan dalam pelayanan Gereja. Kaum muda yang hidupnya dulu banyak diluar Gereja. Kini mulai dijangkau dan dimenangkan untuk sungguh-sungguh mengalami Yesus yang Hidup. Kaum muda menjadi Ujung Tombak bagi Gereja.

Bagaimana dengan kaum muda di Indonesia?

Ada seorang teman pelayan muda yang menanggapi pertanyaan tersebut dengan gurauan, begini katanya, “Lho sebenarnya saat Roh Kudus berhembus tahun 2000 di Asia Pasific dan menggerakkan banyak kaum muda, sebenarnya kaum muda Indonesia juga bergerak, namun masalahnya berhubung kaum muda Indonesia suka NGARET maka Kebangkitan Kaum Muda di Indonesia juga NGARET.” Itu memang hanya sekedar gurauan dari seorang pelayan muda, tapi ada baiknya jika kita juga merenungkan Mengapa hal tersebut bisa terjadi?

Di awal tahun 2005, beberapa pelayan muda di seluruh Indonesia berkumpul dalam Konvensi Nasional (Konvenas) Kaum Muda II Pembaharuan Karismatik Katolik di Yogyakarta. Rupanya inilah momentum yang digunakan oleh Allah untuk mulai menggerakkan kaum muda di Indonesia untuk BANGKIT DAN BERGERAK bagi Gereja. Melalui Konvenas Kaum Muda II tersebut mulai dilakukan PEMETAAN terhadap segala potensi dan permasalahan yang ada di dalam Kaum muda.

Melalui beberapa kali pertemuan maka ada suatu gerakan yang nyata dalam Gereja. Kaum muda mulai bergerak. Dan di awal tahun 2006, diilhami oleh kata-kata Mendiang PAUS YOHANES PAULUS II “You are the hope of the Church, you are my hope”. “A new missionary age will arise, a new springtime of the Church” kaum muda di Keuskupan Agung Jakarta menggebrak dengan kegiatan JAKARTA RENOVATION (Revival Novena For The Arising Generation) 2006.

Saudara-i terkasih, rekan muda yang diberkati Tuhan,

Baru-baru ini, tanggal 28 Oktober, Negara kita Republik Indonesia tercinta memperingati HARI SUMPAH PEMUDA. Dimana kaum muda dari suku yang berbeda, berasal dari daerah yang berbeda atau menggunakan bahasa daerah yang berbeda berkumpul untuk menyatukan Visi demi Masa Depan Republik Indonesia tercinta. Saya yakin hal ini bukan perkara yang mudah untuk menyatukan orang-orang dengan latar belakang yang sangat berbeda.

Dari momentum SUMPAH PEMUDA kita bisa belajar beberapa hal :
1. Visi yang membuat mereka satu
2. Fokus pada Visi bukan pada perbedaan
3. Meletakkan kepentingan Negara diatas kepentingan individu atau golongan

Ada 2 moment yang bisa kita pelajari untuk Kebangkitan Kaum Muda di Indonesia, yaitu yang pertama bahwa Kaum muda harus percaya dan memahami panggilannya dalam gereja. Kaum Muda sebagai PEMBAHARU dan MASA DEPAN GEREJA. Dan yang kedua adalah untuk dapat terjadi Kebangkitan maka Kaum muda harus bersatu dalam VISI (Membangun Tubuh Kristus/Ef 4 : 12). Jika setiap Kaum muda fokus pada Visi Gereja yaitu “MEMBANGUN TUBUH KRISTUS” maka segala perbedaan baik itu beda style, beda komunitas atau apapun tetap bisa berkolaborasi atau saling menghormati dan tidak ada perpecahan atau persaingan dalam Gereja. Dan yang terpenting adalah kita harus berani “KELUAR” dari diri sendiri atau kelompok kita agar kita bisa secara bersama-sama membangun Gereja dan masyarakat.

Karunia Bahasa Roh




Membahas tentang bahasa Roh memang tidak mudah. Banyak terjadi prasangka-prasangka yang tidak sehat di kalangan umat. Ada yang membela membabi-buta, ada yang menolak mentah-mentah. Mengapa hal ini terjadi? Karena karunia Roh ini adalah karunia yang paling kontroversial dan seolah-olah memisahkan antara yang karismatik dan non karismatik. Pembahasan berikut sangat singkat untuk menjelaskan realitas ini, tapi paling tidak sedikit memberikan gambaran yang seimbang.

Pertama-tama bahasa Roh adalah salah satu karunia Roh Kudus (1 Kor 14:2-dst). Karunia adalah gift, anugerah, hadiah dari Allah. Jadi itu bukan barang buatan manusia dan terserah pada yang memberi, yakni Allah. Jadi bahasa Roh bukanlah fenomen gila atau penyakit psikologis, tapi karunia Allah. Jadi tidaklah tepat kalau orang dengan angkuh menolak adanya karunia ini, dan juga sangatlah salah kalau orang bermain-main dengan meniru-niru karunia ini. Karunia adalah pemberian bebas dari Allah, tidak bisa dipaksakan, hanya bisa dan perlu dimohonkan dengan rendah hati.

Lalu bahasa Roh sendiri itu apa? Apakah itu glossolalia (berkata-kata dengan tidak jelas) atau xenoglossia (berkata-kata dalam bahasa asing dengan baik dan jelas tanpa punya pengetahuan tentang bahasa tersebut)? Jawabannya keduanya. Akan tetapi yang lebih biasa terjadi adalah glossolalia, meskipun memang dalam beberapa kasus ada xenoglossia, seperti dalam Pentakosta perdana (Kis 2:1-13). Setelah diadakan penyelidikan, tak ada fenomen bahasa di dalam bahasa Roh, ini melulu ungkapan atau doa Roh pada Allah dengan cara misterius (I Kor 14:2.14), suatu stenagmois alaletois (inexpressible groanings, Rom 8:26) dan untuk membangun hidup rohani pribadi (I Kor 14:4). Ini adalah karunia doa pribadi yang sangat dirindukan oleh para kudus!

Karunia bahasa Roh adalah karunia yang baik dan perlu, tapi tidak begitu penting jika dibandingkan karunia lain yang memiliki dampak sosial langsung, seperti karunia nubuat (I Kor 14:3). Karunia ini adalah karunia biasa (bdk. zaman ‘emas’ karunia ini dalam Kisah Para Rasul), dan bukan karunia elitis yang membuat orang menjadi eksklusif dan merasa diri lebih tinggi daripada orang lain yang tidak menerima karunia ini. Banyak orang yang tidak bijaksana memahami arti karunia ini. Jika karunia itu benar-benar dari Roh Kudus, maka karunia bahasa Roh ini akan membuat kita tetap rendah hati dan bersatu dalam Gereja. Kalau membuat kita sombong dan memecah belah, jangan-jangan itu adalah perbuatan roh jahat.

Meskipun bahasa Roh adalah karunia biasa, namun karunia ini adalah karunia doa yang mendalam yang, sekali lagi, sangat dirindukan oleh para pujangga doa dalam hidup Gereja. Para umat di jaman awal Gereja menggunakan karunia ini dengan ekstensif, lihat Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus. Paulus juga menggunakannya, bahkan mengaku bahwa ia berbahasa Roh “lebih baik” daripada yang lain (1 Kor 14:18). Rasul agung ini, yang menggunakan karunia bahasa Roh dengan bijaksana, menasihatkan agar kita berusaha memperoleh karunia ini beserta dengan karunia-karunia Roh yang lain, namun hendaklah semua karunia itu digunakan untuk membangun jemaat (1 Kor 14:12). Mohonlah karunia ini, dan janganlah menolak jika kita mendapatkannya. Peliharalah karunia ini dengan tekun, karena Allah yang memberikan karunia ini pada kita, tahu apa yang terbaik bagi kita. Janganlah memadamkan karunia Roh Kudus karena malu pada manusia!

Sebagai orang Katolik kita tak perlu takut akan karunia ini. Mengapa harus takut pada karunia Allah? Dampak yang terjadi kalau orang menerima karunia ini adalah: tenang-damai, lega, pikiran terfokus dalam doa, dan feeling the great love of God in prayers. Bagi mereka yang tak mendapat tak usah dipaksakan, berpura-pura mendapatkannya dan meniru-niru, sehingga menjadi aneh, akan tetapi juga jangan menutup diri pada karunia doa ini. Bagi yang mendapat jangan pamer karena ini bukan barang mainan dan barang pameran, tapi karunia kudus dari Allah. Sekali lagi tidak ada status rohani yang lebih tinggi antara yang mendapat karunia ini dan mereka yang tidak mendapatkannya. Ada uncountable karunia yang tersedia, jangan khawatir. Tapi sekali lagi karunia bahasa Roh ini adalah karunia common, umum, maka dari itu mohonkanlah karunia ini dengan rendah hati dan penuh kerinduan mendalam.

Sebagai penutup marilah kita berpegang teguh pada ajaran St. Paulus sendiri: “Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih daripada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat” (1 Kor 14:12).

Wednesday, February 20, 2008

Siapakah Sesamaku Manusia?



Kengerian Redefinisi Sesama Manusia
Dalam keseharian sering terlontar di luar kesadaran kita pertanyaan dan pernyataan yang mendefinisikan sesama kita dalam kotak-kotak definisi tertentu.

Ketika melihat saudara yang perilakunya tidak alus, kita segera mencap saudara itu, “Kok tidak njawani ya?” (Kok tidak santun seperti orang Jawa). Ya tentu saja tidak, karena saudara tersebut adalah orang Ambon. Lucu jadinya kalau orang Ambon jadi njawani. Di kalangan Tionghwa, orang sering menilai orang lain dengan, “Orang itu zhong kuo ren (orang Cina) bukan ya, kok matane sipit kayak kita?” Di kelompok Batak, orang yang tidak sesuku sering disebut, “Ndang halak hita do ibana i.”(Bukan orang kita lah dia itu) Kita juga sering dengan nada campur aduk antara merendahkan, minder, dan sebal, menganggap semua orang berkulit putih sebagai Belanda, atau Londo. Padahal tidak semua orang ber-ras Caucasians itu orang Belanda. Ada orang Jerman, Prancis, Polandia, Irlandia, Inggris, Amerika, dan lain sebagainya. Film independen “Crash” yang memenangkan Academy Award 2006 sebagai film terbaik menuturkan kembali problem-problem rasial yang hidup dalam benak kita yang justru malah menghancurkan kita sendiri. Ini semua merupakan proses kotak mengkotakkan sesesama manusia dari segi suku, ras, dan bangsa.

Juga sering pendefinisian sesama berdasarkan agama. Orang Kristen dipandang sebagai orang yang agresif menyebarkan Injil tanpa pandang bulu, pokoknya sikat saja. Orang Katolik dibilang mati ibadatnya seperti di kuburan karena heningnya, dan ajaran moralnya amat sangat kaku. Orang Muslim dibilang tidak toleran. Orang Budhis dibilang terlalu keras pada dirinya sendiri dan tidak modern. Orang Hindu dibilang seperti dukun.

Belum lagi ketika orang mulai melihat perbedaan itu sebagai jalan untuk mengkategorikan apakah orang lain itu sungguh-sungguh manusia sesamaku. Sebagai contoh, pada zaman penemuan dunia baru, yakni benua Amerika di sekitar zaman Christopher Columbus, para pendatang baru untuk pertama kalinya bertemu dengan penduduk asli. Dengan pengetahuan mereka yang sempit dan salah kaprah, penduduk asli ini mereka sebut sebagai Indians, karena mereka mengira bahwa pelayaran mereka sudah tiba di negeri India. Para Indian ini memiliki budaya, tingkah laku, bahasa, warna kulit, dan struktur wajah yang berbeda dengan para Europeans-Caucasians waktu itu. Yang terjadi kemudian adalah mereka menjajah dan memperbudak para Indian itu.

Tragisnya, sambil memperbudak sesamanya manusia, para Caucasians itu melontarkan suatu pertanyaan konyol, “Are those Indians human beings?” Pertanyaan konyol ini kemudian berkembang menjadi debat filosofis-teologis berkepanjangan, bahkan sampai menimbulkan perseteruan sengit dalam Gereja. Akhirnya, Paus Pius III turun tangan, dengan bulla Sublimis Deus (1537), ia menentang keras perbudakan para Indian itu dan menyatakan dengan tegas bahwa “the Indians themselves indeed are true men.” Bulla ini menghentikan perdebatan dan berangsur-angsur namun dengan pasti mengurangi perbudakan manusia.

Juga di negeri kita yang katanya orang-orangnya ramah tamah ini banyak praktek yang memojokkan sesama yang mengemban cacat fisik apalagi cacat mental. Menghadapi orang yang cacat fisik, mereka yang menganggap diri normal bereaksi bukan menghargai orang-orang cacat tersebut sebagai manusia seperti dirinya, tapi sebagai mahluk yang pantas dikasihani dan pantas diberi sedekah. Padahal para penyadang cacat itu bukan pengemis belas kasihan! Tak ada usaha bersama untuk membangun fasilitas umum yang menghargai dan memberi para penyandang cacat tersebut akses yang memudahkan hidup mereka.

Apalagi terhadap para penyandang cacat mental. Dengan hantam kromo kita segera mengatakan bahwa pribadi-pribadi yang cacat mental itu adalah wong edan, wong gendheng. Mereka menakutkan. Tempat mereka ya di rumah sakit jiwa. Kita takut menerima mereka apa adanya dalam kehidupan normal masyarakat kita. Sungguh menyedihkan sikap kita ini.

Itu semua dalam hidup keseharian. Dalam dunia yang canggih-canggih, seperti yang saya alami hidup bertahun-tahun di negeri Paman Sam, tindakan mendefinisikan kembali manusia ini semakin menjadi brutal. Repotnya tindakan brutal ini dibungkus dengan bahasa canggih sains yang begitu memukau khalayak yang kehausan info-info sains super modern dan futuristik.

Demi kemajuan sains, manusia mulai dipertanyakan keberadaannya. Ada tindakan-tindakan yang mencoba me-redefinisi-kan manusia sebagai pribadi yang utuh. Pada sekitar awal hidup manusia, ilmuwan-ilmuwan, yang lebih pantas disebut dengan politikus, dengan enaknya menyebut pribadi baru dalam rupa embrio yang sedang bertumbuh hanya sebagai the clusters of cells (segerombolan sel-sel). Maka jika embrio dipakai untuk percobaan ilmiah juga tidak apa-apa, bukankah embrio itu hanya sekumpulan sel, sama dengan segmpal daging kecil? Bahkan janin yang sudah berbentuk manusia kecil ada yang menganggap bukan pribadi manusia, karena janin belum bisa berpikir dan sadar dirinya sendiri. Juga ada kelompok yang amat ekstrim yang menganggap bahwa bayi yang sudah lahirpun belum bisa dikategorikan sebagai pribadi manusia, karena dia tidak sadar akan jati dirinya sebagai manusia. Jadi perlindungan terhadap hak-hak asasinya sebagai manusia tidak bisa dijamin, karena mereka belum menjadi pribadi manusia yang lengkap.

Di sekitar akhir hidup manusiapun terjadi redefinisi ini. Manusia yang koma dipandang turun martabatnya sederajat dengan tetumbuhan (vegetasi). Maka potong saja hidupnya, toh dia bukan manusia lagi, karena dia sudah tidak sadar akan dirinya sendiri, maka lebih baik dia mati saja. Hentikan makanannya dan alat bantu hidupnya, biar dia mati saja.

Inilah kengerian redefinisi sesama kita manusia. Benar, kita merasa ngeri, tapi dalam skala besar maupun kecil, kita sedang ikut ambil bagian dalam tindakan redefinisi ini.

Siapakah sesamaku manusia?
Ternyata ribuan tahun yang lalu, pertanyaan diskriminatif ini sudah dilontarkan. Seorang ahli Taurat menanyakan pada Yesus tentang apa yang harus dilakukan untuk memperoleh hidup kekal. Sampailah pembiacaraan mereka pada perintah kasih, “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu, dan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Luk 10:27)

Jawaban Yesus pada si Farisi itu singkat dan amat jelas. Namun, kemudian untuk berlagak kritis si Farisi melontarkan pertanyaan aneh pada Yesus, “Jika demikian, siapakah sesamaku manusia?” (Luk 10:29). Ini pertanyaan lancang! Sudah jelas bahwa semua orang tanpa kecuali dan tanpa kategori adalah sesamaku manusia. Akan tetapi dengan sok pintar si Farisi ini mau membuat kategori-kategori siapa yang bisa dianggap sebagai sesama manusia, dan siapa yang bukan sesamanya manusia. Ini sama saja dengan membuat definisi-definisi seperti demikian. Definisi satu: orang-orang yang bisa dikategorikan sebagai sesamaku manusia, syaratnya harus: a, b, c. Definisi dua: orang-orang yang tidak bisa dikategorikan sebagai sesamaku manusia, syaratnya harus: a, b, c. Si Farisi ini seolah-olah berhak untuk menentukan mana yang sesamaku dan mana yang bukan sesamaku. Ia merasa berhak untuk meredefinisi sesamanya manusia.

Yesus dengan tegas menolak pemikiran ini. Ia tidak pernah mau menjawab pertanyaan si Farisi yang sangat bernada diskriminasi ini. Untuk menanggapi sikap diskriminatif ini Yesus malah bercerita.

Ada seorang yang dirampok habis-habisan dan dihajar sampai hampir mati. Orang ini tergeletak di jalanan kasar dan sangat membutuhkan pertolongan. Seorang imam dan orang Levi lewat. Mereka lebih mementingkan tugas-tugas mereka di Bait Suci daripada menolong orang sekarat ini. Dan lagi menurut hukum Yahudi, orang yang memegang mayat akan menjadi najis oleh mayat itu. Si korban rampok itu tampak seperti mayat, dan lebih baik diandaikan mati dan tidak usah didekati untuk menghindari kenajisan (bdk. Im 21:11, Bil 6:6). Nanti kalau si mati itu disentuh maka mereka harus menjalani lagi upacara pembersihan yang makan waktu tujuh hari lamanya (Bil 19:11). Mereka mengkategorikan sesamanya antara sehat dan sakit, mati dan hidup. Demi alasan hukum mereka memutuskan untuk tidak menyelamatkan orang, malah mengkategorikan orang begitu saja sebagai mayat.

Si korban semakin gawat keadaannya. Lewatlah orang Samaria. Si Samaria ini orang yang didefinisikan oleh kaum Yahudi sebagai ras buangan dan bukan termasuk bangsa Yahudi lagi, karena darah nenek moyang mereka tercampur dengan darah kaum kafir. Kaum Yahudi tidak boleh bergaul dengan orang Samaria. Lagi-lagi manusia dikotak-kotakkan. Namun si Samaria mengacuhkan hukum itu dan menolong si Yahudi yang sekarat itu. Bahkan si Samaria ini sampai memberikan perawatan ekstra sampai si Yahudi itu benar-benar sembuh. Si Samaria tidak mau mengkategorikan sesama berdasarkan ras-suku atau sehat-sakit, dia bahkan menentang hukum.

Yesus kemudian bertanya pada si pandir Farisi, “Siapakah yang menjadi sesama manusia bagi orang yang dirampok itu?” Tentu saja, tidak bisa lain si Farisi menjawab, “Orang yang telah menunjukkan belas kasihan kepadanya.” (Luk 10:36)

Inilah jawaban yang dikeluarkan oleh Yesus melalui mulut si Farisi.
Pertanyaan yang membuat kategori-kategori “siapakah sesamaku manusia” sudah diporak-porandakan oleh Yesus. Pertanyaan itu tidak boleh ada lagi! Dengan bertanya “siapakah sesamaku?” si Farisi menjadikan sesamanya sebagai obyek yang bisa dikategorikan ini dan itu. Yesus mengubah pola pikir yang salah ini. Yesus membalik bertanya: “Siapa yang menjadi sesama bagi orang lain? Itulah sesama manusia.” Jadi Yesus beranjak dari pertanyaan, “Orang macam apakah yang harus aku kasihi?” menjadi “Sudahkah kamu mengasihi orang lain, macam apapun dia itu?”

Kemudian, diakhir Injil, Yesus memerintah si Farisi itu dengan tegas, “Pergilah, dan perbuatlah demikian!”

Belajar dari si Samaria

Terlalu banyak sudah kategori-kategori yang kita buat untuk meredefinisikan sesama kita manusia menurut kehendak kita. Kita pakai kategori suku, ras, agama, keadaan sosial ekonomi, kesehatan, kasta, rupa dan bentuk, prestasi akademis, dan lain sebagainya. Semua kategori ini seolah bergerak dan menyetir kita dengan liar. Sehingga seringkali setiap langkah kita, kita lakukan dengan perhitungan ini dan itu atas dasar kategori ini dan itu. Dengan demikian kita meredefinisi apa arti menjadi pribadi manusia.

Bukankah semua manusia itu semartabat di hadapan Sang Pencipta? Adakah kategori-kategori itu di hadapan Allah? Adakah manusia kelas satu, dua dan tiga? Tidak ada. Allah tidak pernah membuat definisi ini dan itu tentang manusia satu dan yang lain. Semua ciptaanNya yang unik adanya itu dipandangNya sebagai “amat baik adanya.” (Kej 1:31) Semuanya dikasihi Allah. Rasul Paulus memahami benar hal ini, maka dia mengajarkan pada umat di Kolose, “Tiada lagi orang Yunani atau orang Yahudi, orang bersunat atau orang tak bersunat, orang Barbar atau orang Skit, budak atau orang merdeka, tetapi Kristus adalah semua dan di dalam segala sesuatu.” (Kol 3:11) Dalam Kristus tidak ada lagi kategori-kategori!

Allah tidak membuat definisi tentang manusia, kitalah yang dengan congkak membuat banyak definisi tentang sesama kita. Lebih parahnya lagi, definisi-definisi itu mengkotak-kotakkan sesama kita. Definisi membatasi pengertian tentang sesama kita. Bahkan definisi itu sering menghina sesama kita dengan menurunkan martabatnya.

Banyak hal yang bisa diperlajari dari si Samaria yang murah hati itu.
Meskipun tampaknya si Samaria ini tokoh fiktif, tapi dia inilah tokoh ideal. Dialah yang mengajarkan apa artinya sesungguhnya sesama manusia itu, yakni ‘menjadi sesama bagi orang lain.’ “Hanya seorang sesama yang bisa menjadi sesama bagi orang lain,” begitu kata St. Agustinus. Artinya hanya kalau kita mau menjadi sesama bagi orang lain, maka kita akan paham bahwa orang lain itu adalah sungguh sesama kita manusia.

Kita harus menjalin relasi dengan sesama kita manusia antar subyek agar dapat memahami bahwa aku dan sesamaku adalah sederajat. Dan kategori apapun yang aku gunakan untuk mendefinisikan sesamaku manusia malah menjadi kembali berbelok ke arahku dan menyempitkan makna diriku sendiri sebagai pribadi manusia.

Untuk membuat definisi tentang apapun kita harus mengambil jarak dan mengobyekkan sesuatu. Jika sesuatu itu adalah sesama kita, maka sesama itupun menjadi obyek kita. Hasilnya adalah suatu rumusan tentang sesama kita manusia yang amat sangat sempit. Sedangkan sesama kita manusia itu bukan benda dan bukan obyek!

Namun dengan berelasi dengan sesama kita, kita menjadi sesama bagi dia atau mereka. Dari relasi setara antar subyek ini, kita mendapatkan pengertian yang jauh lebih kaya dan dalam tentang sesama kita. Juga kita akhirnya bisa menghargainya sebagai pribadi manusia yang diciptakan dan dicintai Allah, sama seperti diri kita.

Inilah sebenarnya ungkapan sejati perintah cinta yang kedua, yakni cinta pada sesama. Di sini pengetahuan manusia yang cenderung mengkotak-kotakkan dan membuat definisi baru tentang sesamanya sesuai dengan seleranya menjadi terhenti, dan hanya cinta yang tinggal (bdk. 1 Kor 13:8.13). Dan di sinilah Sabda Kristus bergema dengan baru: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.” (Mat 25:40)

The Politics of Jesus



Summary and commentary on John Howard Yoder's book

Thesis
I would like to say that Yoder’s argument is not easy to follow.
As noted by reviewers John Howard Yoder’s The Politics Of Jesus is a very valuable contribution in giving a biblical basis to the current thought on just war theory. He challenges biblical theologies that had managed to depoliticize the ethical significance of Jesus’ message. He put Jesus’ social ethics as the basis of his work, he is really consistent in this matter. Some people say that he is a pacifist, but in my opinion he is not a “cheap” pacifist, he has a solid basis to be a “pacifist” because he does not run away from the reality.

Yoder’s ethical work reminds us to the urge from Vatican Council II that moral theology has to back to its source, that is, the sacred scripture.


Context
In the preface of this first edition of his book, Yoder claims that his work is a simple rebound of a Christian pacifist commitment as it responds to the ways in which mainstream Christian theology has set aside the pacifist implications on the New Testament message. This work testifies to the conviction that, well beyond the question of formal orientation, there is a bulk of specific and concrete content in Jesus’ vision of the divine order which can speak to our age as it seldom has been free to do before, if it can be unleashed from the bonds of inappropriate a priori.

In the preface for the second edition, he said consistently that his work is strongly based on the sacred scripture, even though it is not just an exegesis. He said that his work had a great influence from what is called “biblical realism.”

Dennis P. McCann from DePaul University said that Yoder’s work in the second edition is no less provocative than in the first edition in contesting the reevaluations of New Testament ethics emerging from recent scholarship on the historical Jesus. According to him, Yoder presses beyond the question whether Jesus was political to ask what kind of politics is the mark of Christian discipleship.Max L. Stackhouse from Princeton Theological Seminary said that as Christians we are challenged by the work of Yoder in the political engagement.

From these reviews, it seems that Yoder’s work, which is strongly based on the sacred scripture, is a challenge to us as Christian to live out the biblical message whatever difficult it is. His work may broaden our mind as Christian that has been strongly based on Augustinian legacy for centuries, and set aside Jesus’ message. Yoder’s work reminds us always that we have to struggle for justice in this world and as Christians we cannot be apolitical, he reminds us to live a Christian hope that only God who can accomplish the work for justice totally. We are still living in the eschatological strain.

Analysis
God will fight for us
In this chapter Yoder is dealing with the problem from the Old Testament that many people cite to support their theory that God wills war. This makes the Old Testament seem totally different with the New Testament in dealing with war. Yoder argues that such a notion is wrong, because several wars that occurred in Israel were not God’s will, but man’s. He argues that Israel believed that God would fight for them. “Fear not, stand firm, and see the salvation of the Lord, which he will work for you today; for the Egyptians whom you see today, you shall never see again. The Lord will fight for you, and you have only to be still” (Exod. 14:13).

The war with the Amalekites was a human decision (Moses and Joshua). It is not reported that Yahweh commanded this war. And then this story tried to convince this belief by showing that if Moses turned down his extended hands, the Israel would be defeated by the Amalek. It means not to let Israel think that military strength or numbers had brought the victory, but trusting God for their survival as a people is the real strength.

The similar themes did occur in the era of the kingdoms in Israel.
After the exile, Israel’s faith did not change. Israel still looked to their nation’s history as one of miraculous preservation by Yahweh. Sometimes this preservation had included the Israelites’ military activity (note: the original pattern of “holy war” in Israel was only defensive); at other times no weapons at all were used. In both cases, however, the point was the same: confidence in Yahweh is an alternative to the self determining use of Israel’s own military resources in the defense of their existence as God’s people. God himself will take care of his people.

This understanding of the meaning behind the stories in the Old Testament is really important, because Jesus’ message in the Gospel is a prolongation of the original early Israel experience and vision, rather than as a rejection or reversal. It is showed there that God’s intervention in history is possible. For this reason we must be careful in reading and interpreting the war story in the Old Testament.

The Possibility of Nonviolent Resistance
There are two significant cases of the possibility of nonviolence resistance in the history of Israel, namely, the case of Pilate and Caligula.
Josephus Flavius reported that when Pilate moved from Caesarea to Jerusalem to abolish the Jewish law, he brought and set up Caesar’s effigies in Jerusalem. The Jews protested him by demonstration. When Pilate ordered his soldiers to kill them, they would choose death rather than transgress the wisdom of their law. Pilate gave up and withdrew his plan.

Later, Caligula tried to place his statue in the temple of Jerusalem, a profanation of the sacred temple of the Jews by ordering Petronius. The reaction was a strike. Fields were left untilled in the sowing season, and by the tens of thousands the Jews gathered to entreat Petronius for over a month. This unity could not be broken.

Those cases showed to us that there is possibility of nonviolent resistance (as opposed to the Zealotes), to reject the responsible sword is not to withdraw from the history. These experiences then were echoed in Jesus message: “Put your sword back into its place; for all who take the sword will perish by the sword.” (Mt. 26:52, par.)

Trial Balance

In this chapter Yoder talks about the theology of the Cross. In his argument this theology is not merely a personalistic one, but a theology that should be the basis of social ethics. He talks about the politics of the cross. This theology could be a significant contribution to our understanding on the just war theory. He tries to convince his readers that Jesus’ way is the way of the cross, and his way is not the soteric way in the sense of pietism, but actually, it is a social justice way.

Theology of the Cross has been lived since the early Church. Paul spoke of his own ministry as a sharing in the dying and rising of Jesus (2Cor 4:10-11; Col 1:24; Phil 1:29. 2:1-5; Eph 5:25). The letters of Peter, the letter to the Hebrews, the letters of John and the Gospels proclaim the important of the Cross in the life of the faithful. We could argue that the concept of imitation of the Christ is not applied by the New Testament as Franciscan and romantic devotion has tried most piously to apply it, but those NT proclamations are all the more powerfully demonstration of how fundamental the thought of participation in the suffering of Christ. The NT church sees it as guiding and explaining her attitude to the powers of the world. This message is consistently proclaimed in the NT.

Yoder argues that the believer’s cross is, like that of Jesus, the price of social non-conformity. It is not just an inward wrestling of the soul with self and sins; it is the social reality of representing an unwilling world to the Order to come: “The servant is not greater than his master. If they persecuted me they will persecute you (Jn 15:20). The temptation of Jesus is not a spiritual temptation, but a temptation to choose or not choose the Cross. Yoder’s argument is confirmed by William Barclay in his exegesis of the Gospel of Matthew. Barclay said: “Jesus made his decision. He decided that he must never bribe men into following him, he decided that the way of sensations was not for him, he decided that there could be no compromise in the message he preached and the faith he demanded. The choice inevitably meant the Cross – but the Cross just as inevitably meant the final victory” (p.70).

For Yoder, incarnation is that God broke through the borders of our standard definition what is human, and gave a new, formative definition in the man Jesus. It means that for us as a man, there is nothing impossible to do what Jesus did.
Then radically Yoder gives the readers moral choices that need to be chosen, as follows:
Jesus of history or of dogma. We should choose the Jesus of history (e.g. Albert Schweitzer), because in all his eschatological realism, we find an utterly precise and practicable ethical instruction, practical because in him the kingdom has actually come within reach. In him the sovereignty of Yahweh has become human history.

The prophet and the institution. We should choose to become a prophet that condemns and “crushes” under God’s demand for perfection, by convincing people of their sinfulness and pointing toward the ideal.
To conceive of the reign of God either as external and catastrophic or as subjective, inward. The kingdom of God is a social order not a hidden one. It is not tomorrow, it starts from now on, although it is not finished yet.

The political and the sectarian. The Christian should not be apolitical or sectarian. Christian should be political, but we have to note it well, we are called to be political in Jesus’ way, namely, rejecting the sword. Jesus’ way is not less but more relevant to the question of how society moves than is the struggle for possession of levers of command; to this Pilate and Caiaphas testify by their judgment on him. Jesus refused to concede that those in power represent an ideal, a logically proper, or even empirically acceptable definition of what it means to be political. He did not say as some sectarian pacifists or some pietists might, “You can have your politics and I shall do something else more important.” He said, “Your definition of polis, of the social, of the wholeness of being human socially is perverted.”

The individual and the social. Jesus did not differ the individual and the social aspect in man’s life “sharply”, he doesn’t know anything about radical personalism. The personhood which he proclaims as a healing, forgiving, call to all is integrated into the social novelty of the healing community. Jesus’ view and work is holistic. In this view the cross is not folly or weakness, but the wisdom and power of God (1Cor 1:22-25).

The Disciple of Christ and the Way of Jesus
In this chapter Yoder gives us a large collection of texts on how the disciple of Christ to follow his way. We can read the detail nuances in his writing. One thing that we should understand clearly here is the idea of “imitation.” Yoder said that there is one realm in which the concept of imitation holds. This is at the point of concrete social meaning of the cross in its relation to enmity and power. Servanthood replaces dominion, forgiveness absorbs hostility. Thus and only thus are we bound by NT thought to “be like Jesus." Again in this chapter the role of Jesus’ cross has been stressed.

Christ and Power

Yoder spoke at length in this chapter about the meaning of powers. Because of natura vulnerata (fallen nature) in everything, and in powers as well, so that the worldly powers tend to be perverted. The structures (powers) of the world fail to serve us as they should. They do not enable humanity to live a genuinely free, loving life. They have absolutized themselves and they demand from the individual and society an unconditional loyalty. They harm and enslave us. Yoder stresses, "We cannot live with them."

If then God is going to save his creatures in their humanity, then the powers cannot simply be destroyed or set aside or ignored. Their sovereignty must be broken. This is what Jesus did, concretely and historically, by living a genuinely free and human existence. This life that brings him to the cross. He struggled to free himself from the Jewish religion and Roman politics. Morally he broke their rules by refusing to support them in their self-glorification; that’s why they killed him. Therefore his cross is victory, the confirmation that he was free from the rebellious pretensions of the cruel condition. Here we have for the first time to do with someone who is not the slave to any power, of any law, or custom, community or institution, value or theory. He disarmed the principalities and powers and made a public example of them, triumphing over them in him (Col. 2:15).

But then, how does the Church deal with this power of Christ? What should the Christian do? According to Yoder the Church should not be seduced by the worldly powers, but by existing, the church demonstrates that her rebellion has been vanquished. Then the Christian should change the fallen structures (powers) by building a true Christian community. It is not a utopia, it works and it has been the success of the early Church (cf. Act 2:43-47). This is not pietism, this is a political movement, a refusal by not withdrawing from society, but this is rather a major negative intervention within the process of social change, a refusal to use unworthy means even for what seems to be a worthy end. With this the Christian can be the conscience of the world.

Conclusion

The role of Jesus’ cross has been profoundly stressed in Yoder’s work. This is what the Christian should live out. The meaning of Cross here, however, is not a narrow pietism or individualism. Jesus’ cross is the only answer to this broken world, and it should be the basis of the Christian nonviolence political movement. Violence creates violence. We should move to stop violence with nonviolent movement. Pope John Paul II in his encyclical letter Dives in Misericordia said: “The experience of the past and of our own time demonstrates that justice alone is not enough, that it can even lead to the negation and destruction of itself, if that deeper power, that is love, is not allowed to shape human life in its various dimensions. It has been precisely historical experience that, among other things, has led to the formulation of the saying: summum ius, summa inuria. This statement does not detract from the value of justice and does not minimize the significance of the order that is based upon it; it only indicates, under another aspect, the need to draw from the powers of the spirit which condition the very order of justice, powers which are still more profound" (art. 12).

That power of love is the Cross of Jesus. Let me summarize it in one sentence: the answer of mysterium iniquitatis (the mystery of evil) is mysterium crucis (the mystery of cross).


Questions


Can Elijah’s case, namely, killing hundreds false prophets (2 Kings 18:20-40) which is not cited and described by Yoder be a “stumbling block” for his argument in his work?

Could the theology of the Cross be the basic principle of a just war theory? Or is this theology not relevant anymore to this modern world? If it could be applied, where is its place?

St. John of the Cross


One dark night,
fired with love's urgent longings
- ah, the sheer grace! -
I went out unseen,
my house being now all stilled.

In darkness, and secure,
by the secret ladder, disguised,
- ah, the sheer grace! -
in darkness and concealment,
my house being now all stilled.

On that glad night,
in secret, for no one saw me,
nor did I look at anything,
with no other light or guide
than the one that burned in my heart.

This guided me
more surely than the light of noon
to where he was awaiting me
- him I knew so well -
there in a place where no one appeared.

O guiding night!
O night more lovely than the dawn!
O night that has united
the Lover with his beloved,
transforming the beloved in her Lover.

Upon my flowering breast
which I kept wholly for him alone,
there he lay sleeping,
and I caressing him
there in a breeze from the fanning cedars.

When the breeze blew from the turret,
as I parted his hair,
it wounded my neck
with its gentle hand,
suspending all my senses.

I abandoned and forgot myself,
laying my face on my Beloved;
all things ceased; I went out from myself,
leaving my cares
forgotten among the lilies.

Saturday, February 16, 2008

Sebuah Renungan atas Kekuasaan



Kompas, 12 Mei 2004

FILM trilogi Lord of the Rings usai sudah. Namun, gema pesan-pesannya tetap terasa menusuk dalam. Gema pesan tentang kekuasaan, tentang suatu perjalanan penuh derita menghancurkan cincin yang menjanjikan kekuasaan luar biasa, yang bersumber dari dunia kejahatan.

Cincin kuasa yang menawan hati ini menggoda siapa pun yang memandangnya, pun sampai seorang putri suci-murni yang bernama Galadriel, sesepuh para Elves yang muda abadi, menjadi tergoda untuk memiliki cincin kuasa jahat itu.

Kuasa. Power. Siapa yang tidak tergoda untuk meraih dan memilikinya?

Negara adidaya semacam Amerika Serikat selalu tergoda untuk memiliki kuasa sebesar-besarnya. Mengapa ada ribuan tentara di Irak? Mengapa ada banyak pangkalan angkatan bersenjata Amerika di berbagai tempat strategis di dunia? Mengapa Washington menolak kerja sama PBB dalam mengatasi krisis Irak? Jawabannya adalah kuasa. Kuasa itu patut dan penting serta harus dipertahankan.

Bangsa tercinta Indonesia kita kini sedang mempersiapkan diri untuk pemilu presiden dan wakil presiden. Situasi politik menjadi menghangat kembali. Suatu hal yang wajar terjadi dalam negara demokratis yang sehat. Namun, di balik itu ada sesuatu yang sedang terjadi, yakni perebutan kekuasaan. Siapakah yang menang dan menjadi orang pertama dan kedua Indonesia? Siapa yang berhak mendapatkan pelat nomor RI-1 dan RI-2 di sedan hitamnya yang elegan? Siapa yang akan memegang kendali hidup bernegara? Semua pertanyaan ini bisa diringkas menjadi: Siapa yang akan berkuasa di Indonesia?

Banyak pihak, kelompok, dan pribadi yang sudah dan mulai bergerak. Saling melirik dan menggandeng ke kanan dan ke kiri, ke atas dan ke bawah. Saling melamar. Ada yang jual mahal. Ada yang tenang, namun banyak juga yang bingung tak tahu arah dan membuat orang lain bingung pula. Semuanya disibukkan oleh mencari pasangan berkuasa untuk persiapan perebutan kuasa. Ini bukan berarti bahwa kuasa itu in se jahat atau tidak baik, tetapi kita perlu waspada akan kekuasaan itu.

Orlando Petterson, seorang profesor sosiologi di Harvard University, dalam bukunya, Slavery and Social Death (1982), menulis tentang the idiom of power, sebuah analisis sosiologis tentang kekuasaan sebagai suatu introduksi pembahasan tentang perbudakan (slavery). Menurutnya, kekuasaan selalu mengandaikan property atau barang milik. Tidak ada orang yang berkuasa tanpa memiliki sesuatu. Tidak mungkin. Berkuasa identik dengan semakin banyak memiliki sesuatu. Kuasa dan barang milik adalah bagaikan kembar identik. Petterson melanjutkan bahwa properti itu bagaikan a bundle of powers.

Properti juga memiliki dua aspek. Aspek pertama adalah "suatu jaringan relasi sosial yang membentuk suatu hubungan antarpribadi yang terbatas dan sudah ditetapkan". Aspek yang kedua adalah "obyek". Obyek di sini mencakup apa pun, termasuk sesama manusia. Di sini Petterson mengingatkan bahwa jika relasi sosial antarsesama manusia menjadi terbatas dan sesama manusia dianggap obyek, hal ini akan mengarah ke suatu perbudakan, yakni menjadikan orang lain sebagai budak yang didefinisikan sebagai socially dead person. Proses terjadinya socially dead person ini dapat digambarkan sebagai berikut: Dengan kuasa, manusia membuat dirinya teralienasi dengan orang lain, sesamanya, dan akhirnya hal ini akan menciptakan suatu social death relations atau social death persons. Kuasa bisa menuntun pada perbudakan sesama manusia.

Tentu saja dalam zaman modern ini tidak mungkinlah slavery itu tampak kasatmata, seperti yang terjadi pada zaman Romawi dengan struktur relasi dominus-captivus (tuan-tawanan; catatan kecil: Mesir kuno mengerti captivus sebagai living dead). Namun, tidaklah mustahil terbentuk suatu struktur dominus-captivus tak kasatmata. Di dunia Barat, struktur itu bisa bersembunyi di balik jargon "demokrasi". Dengan alasan demokrasi, negara yang adidaya dapat datang menyerbu negara kecil, mengalahkan dan menguasai. Apa bedanya pemaksaan demokrasi ini dengan kolonialisme Julius Caesar dengan semboyannya: veni, vidi, vici?

Di negara Indonesia tercinta, jargonnya adalah "kesejahteraan rakyat". Jargon indah yang sangat mewarnai rumusan sila-sila dari Pancasila dan UUD 45, dari awal hingga akhir. Jargon luhur ini mudah dieksploitasi. Janji berbunga-bunga menyejahterakan rakyat seakan-akan menjadi refrain kampanye presiden. Hal yang sangat luhur dan patut dipuji! Namun, ingat kisah bermakna Lord of the Rings. Sang putri yang suci luhur pun bisa tergoda untuk memiliki kekuasaan. Hal ini juga berlaku pada para calon penguasa, janji menyejahterakan rakyat karena dibuai oleh kekuasaan bisa menjadi berbalik menjadi jargon "disejahterakan rakyat" atau rakyat harus menjadi captivus, sementara penguasa harus tetap menjadi dominus.

Karena, jika seorang calon penguasa itu menang, pertanyaan kritisnya: menang dari siapa dan menang untuk siapa? Kuasa itu baik, namun sangat-sangat riskan untuk menjadi tempat manusia tergelincir masuk dalam jurang keangkuhan. Sedangkan keangkuhan adalah awal kejatuhan sang penguasa itu. Inilah circulus vitiosus (lingkaran setan) yang dibentuk oleh kekuasaan.

Untuk mematahkan circulus vitiosus ini, struktur dominus-captivus perlu "direvolusi" menjadi minister-dominus (pelayan-tuan). Penguasa mesti tampil sebagai pemimpin yang melayani, dan tuannya adalah rakyat. Rakyat bukannya socially death persons, tetapi tuan. Sebenarnya hal ini bukan ide baru, namun banyak penguasa yang menjadi lupa, dibuai oleh privilege kekuasaannya.

Pemimpin yang melayani, atau ministerial leadership, adalah suatu bentuk ideal kepemimpinan. Para pemimpin dunia yang mengukir sejarah selalu tampil sebagai pemimpin yang melayani. Martin Luther King, Gandhi, dan Dalai Lama tampil sebagai pribadi yang kuat, namun penuh pelayanan bagi rakyat. Para Paus gereja Katolik menyebut diri sebagai servus servorum Dei (pelayan bagi para pelayan Allah). Dalam wacana tugas kepresidenan, merenungkan makna kata "menteri" juga membantu kita menangkap dengan mudah makna ministerial leadership. Menteri adalah jabatan tinggi dalam suatu pemerintahan. Kata "menteri" dalam bahasa Inggris disebut dengan minister. Minister berasal dari bahasa Latin, yang berarti pelayan. Jabatan menteri adalah jabatan sebagai "pelayan". Presiden adalah kepala para menteri. Jadi, presiden adalah kepala pelayan. Indah bukan? Siapa yang menjadi tuan? Rakyat.

Di tengah dinamika demokrasi mencari presiden dan wakil presiden ini, mari kita membuat agar wacana minister-dominus dan ministerial leadership menjadi wacana publik dan juga menjadi wacana bagi para calon pemimpin bangsa.

Benny Phang
Pemerhati Masalah Etika CUA-Washington, DC