Thursday, February 21, 2008

Karunia Bahasa Roh




Membahas tentang bahasa Roh memang tidak mudah. Banyak terjadi prasangka-prasangka yang tidak sehat di kalangan umat. Ada yang membela membabi-buta, ada yang menolak mentah-mentah. Mengapa hal ini terjadi? Karena karunia Roh ini adalah karunia yang paling kontroversial dan seolah-olah memisahkan antara yang karismatik dan non karismatik. Pembahasan berikut sangat singkat untuk menjelaskan realitas ini, tapi paling tidak sedikit memberikan gambaran yang seimbang.

Pertama-tama bahasa Roh adalah salah satu karunia Roh Kudus (1 Kor 14:2-dst). Karunia adalah gift, anugerah, hadiah dari Allah. Jadi itu bukan barang buatan manusia dan terserah pada yang memberi, yakni Allah. Jadi bahasa Roh bukanlah fenomen gila atau penyakit psikologis, tapi karunia Allah. Jadi tidaklah tepat kalau orang dengan angkuh menolak adanya karunia ini, dan juga sangatlah salah kalau orang bermain-main dengan meniru-niru karunia ini. Karunia adalah pemberian bebas dari Allah, tidak bisa dipaksakan, hanya bisa dan perlu dimohonkan dengan rendah hati.

Lalu bahasa Roh sendiri itu apa? Apakah itu glossolalia (berkata-kata dengan tidak jelas) atau xenoglossia (berkata-kata dalam bahasa asing dengan baik dan jelas tanpa punya pengetahuan tentang bahasa tersebut)? Jawabannya keduanya. Akan tetapi yang lebih biasa terjadi adalah glossolalia, meskipun memang dalam beberapa kasus ada xenoglossia, seperti dalam Pentakosta perdana (Kis 2:1-13). Setelah diadakan penyelidikan, tak ada fenomen bahasa di dalam bahasa Roh, ini melulu ungkapan atau doa Roh pada Allah dengan cara misterius (I Kor 14:2.14), suatu stenagmois alaletois (inexpressible groanings, Rom 8:26) dan untuk membangun hidup rohani pribadi (I Kor 14:4). Ini adalah karunia doa pribadi yang sangat dirindukan oleh para kudus!

Karunia bahasa Roh adalah karunia yang baik dan perlu, tapi tidak begitu penting jika dibandingkan karunia lain yang memiliki dampak sosial langsung, seperti karunia nubuat (I Kor 14:3). Karunia ini adalah karunia biasa (bdk. zaman ‘emas’ karunia ini dalam Kisah Para Rasul), dan bukan karunia elitis yang membuat orang menjadi eksklusif dan merasa diri lebih tinggi daripada orang lain yang tidak menerima karunia ini. Banyak orang yang tidak bijaksana memahami arti karunia ini. Jika karunia itu benar-benar dari Roh Kudus, maka karunia bahasa Roh ini akan membuat kita tetap rendah hati dan bersatu dalam Gereja. Kalau membuat kita sombong dan memecah belah, jangan-jangan itu adalah perbuatan roh jahat.

Meskipun bahasa Roh adalah karunia biasa, namun karunia ini adalah karunia doa yang mendalam yang, sekali lagi, sangat dirindukan oleh para pujangga doa dalam hidup Gereja. Para umat di jaman awal Gereja menggunakan karunia ini dengan ekstensif, lihat Kisah Para Rasul dan surat-surat Paulus. Paulus juga menggunakannya, bahkan mengaku bahwa ia berbahasa Roh “lebih baik” daripada yang lain (1 Kor 14:18). Rasul agung ini, yang menggunakan karunia bahasa Roh dengan bijaksana, menasihatkan agar kita berusaha memperoleh karunia ini beserta dengan karunia-karunia Roh yang lain, namun hendaklah semua karunia itu digunakan untuk membangun jemaat (1 Kor 14:12). Mohonlah karunia ini, dan janganlah menolak jika kita mendapatkannya. Peliharalah karunia ini dengan tekun, karena Allah yang memberikan karunia ini pada kita, tahu apa yang terbaik bagi kita. Janganlah memadamkan karunia Roh Kudus karena malu pada manusia!

Sebagai orang Katolik kita tak perlu takut akan karunia ini. Mengapa harus takut pada karunia Allah? Dampak yang terjadi kalau orang menerima karunia ini adalah: tenang-damai, lega, pikiran terfokus dalam doa, dan feeling the great love of God in prayers. Bagi mereka yang tak mendapat tak usah dipaksakan, berpura-pura mendapatkannya dan meniru-niru, sehingga menjadi aneh, akan tetapi juga jangan menutup diri pada karunia doa ini. Bagi yang mendapat jangan pamer karena ini bukan barang mainan dan barang pameran, tapi karunia kudus dari Allah. Sekali lagi tidak ada status rohani yang lebih tinggi antara yang mendapat karunia ini dan mereka yang tidak mendapatkannya. Ada uncountable karunia yang tersedia, jangan khawatir. Tapi sekali lagi karunia bahasa Roh ini adalah karunia common, umum, maka dari itu mohonkanlah karunia ini dengan rendah hati dan penuh kerinduan mendalam.

Sebagai penutup marilah kita berpegang teguh pada ajaran St. Paulus sendiri: “Kamu memang berusaha untuk memperoleh karunia-karunia Roh, tetapi lebih daripada itu hendaklah kamu berusaha mempergunakannya untuk membangun jemaat” (1 Kor 14:12).

1 comment:

mithabelia said...

tengkyu so much for this article..
saya mnerimanya stlh doa rosario. feels so blessed!