Tuesday, January 8, 2008

Menelaah Tendensi "Civic Friendship"


Kompas, 20 September 2004

SITUASI menjelang Pemilu membuat suhu politik menghangat. Suatu dinamika demokrasi yang sehat, yang menandakan, ada kehidupan dalam polis. Mencermati gejala menjelang Pemilu, di Indonesia maupun di Amerika Serikat, ada satu hal yang menarik, merapatnya barisan partai-partai yang berkompetisi.

Merapatnya barisan partai-partai inilah yang menarik ditelaah dalam konteks tendensi ke civic friendship, suatu ide yang disimpulkan Gilbert C. Meilaender, dalam buku Friendship: A Study in Theological Ethics, dari pemikiran Aristoteles dalam Nichomachean Ethics. Sumbangan pemikiran filosofis-etis ini amat menarik untuk dipahami dan direnungkan bersama sebagai bangsa yang sedang berjuang membangun demokrasi sejati.

GUNA memahami ide civic friendship, kita mesti menengok kembali apa pemahaman Aristoteles tentang persahabatan (friendship). Menurut Sang Filsuf, persahabatan memiliki dua kualitas penting yang tidak dapat dipisahkan, yakni preferensial dan mutual. Dua kualitas ini akan membawa pengaruh dalam pemahamannya akan civic friendship.

Persahabatan itu sifatnya preferensial, memilih-milih. Artinya, orang tidak akan menganggap semua orang sebagai sahabatnya. Ada tingkatan-tingkatan tertentu sampai orang menerima orang lain sebagai sahabat. Pertama adalah kenalan, kemudian kawan, baru kemudian sahabat. Persahabatan yang preferensial ini secara hakiki akan mengantar orang pada suatu pilihan akan kelompok. Jika persahabatan itu kian mendalam, maka opsi pada kelompok akan kian intens, sehingga bisa mengarah ke group sufficient. Jika ini terjadi, pintu gerbang terhadap orang lain yang bukan sahabat akan tertutup, bahkan tertutup rapat. Orang Jawa melukiskan ini dalam kalimat terkenal, "Mangan ora mangan asal kumpul." Berkumpul, bersahabat dalam kelompok lebih penting daripada, bahkan, makan.

Selain bersifat memilih-milih, persahabatan juga bersifat mutual, saling menguntungkan. Persahabatan tidak bisa satu arah, maka yang terjadi adalah reciprocity atau simbiosis mutualisme. Dalam konteks polis atau politik yang menjadi bahan simbiosis ini adalah rasa aman, aman dari gangguan pihak lain yang tidak termasuk lingkungan sahabat yang mengancam keberadaannya.

Civic friendship adalah suatu persahabatan dalam konteks politik. Karena terletak dalam kategori friendship maka civic friendship juga bersifat preferensial dan mutual. Mari dicermati konteks ini. Jika persahabatan preferensial itu terjadi dalam lingkungan elite politik, maka yang terjadi adalah merapatnya barisan partai-partai politik tadi dan kian tertutupnya pintu terhadap rakyat. Persahabatan semacam ini bisa menjadi amat berbahaya bagi kepentingan polis atau rakyat. Maka tidak perlu heran, mengapa terjadi fenomena, dalam kampanye rakyat dijadikan kawan, tetapi setelah itu ditinggalkan. Ini karena rakyat bukan sahabat, kawan bisa ditinggalkan atau dilupakan, sahabat tidak.

Dalam konteks persahabatan mutual, merapatnya barisan itu dilakukan demi saling membagi keuntungan, yakni, rasa aman. Aman dalam perlindungan benteng yang kokoh dari para sahabat. Para sahabat yang nota bene dalam konteks elite politik, memiliki sumber-sumber kekuatan besar, baik kekuatan politis, militeristis, atau ekonomis.

Maka, sebenarnya civic friendship bukanlah murni suatu friendship. Civic friendship lebih tepat disebut comrades, yakni, kawan atau teman. Maka jangan heran dalam dunia politik ada istilah “tidak jelas siapa kawan, siapa lawan," karena garis batas kawan dan lawan itu tipis, tidak sekokoh garis batas sahabat dan lawan.

Karena itu, setelah kompetisi melawan partai lain selesai, dan setelah kemenangan politis diraih, maka yang terjadi adalah mengendornya kerapatan barisan dan tampaklah sifat asli civic friendship sebagai comrades. Ini terbukti dengan saling negosiasi internal dalam kelompok tertentu guna mendapatkan berapa banyak kursi di kabinet, berapa banyak kekuasaan yang akan diraih oleh kubu di dalam kubu. Kawan yang bukan sahabat itu dapat saja merapatkan diri atau meninggalkan kelompok demi keuntungan sendiri dan demi rasa aman yang harus dipertahankan.

DI sini kita lihat betapa lemah dan rapuhnya suatu civic friendship. Bentuk persahabatan ini membutuhkan suatu redemptive quality dari bentuk lain yang dapat menutupi kelemahannya. Meilaender, dalam Friendship (2002), menawarkan universal friendship. Persahabatan memang membutuhkan kualitas-kualitas semacam preferensial dan mutual, tetapi kualitas-kualitas persahabatan ini menjadikan persahabatan itu bersifat particular, menyempit, maka ditawarkan suatu persahabatan universal. Persahabatan universal ini, melanjutkan dan memperluas ide Meilaender, mendobrak pintu-pintu yang ditutup oleh persabatan preferensial.

Jadi dalam konteks civic friendship, persahabatan ini membuka juga persahabatan dengan kawan politis, dan yang paling penting, dengan polis atau rakyat. Sehingga di sini “kepentingan rakyat" bukan menjadi suatu jargon basi dari sebuah kampanye politis yang penuh dengan bunga-bunga janji, tetapi menjadi bagian dari hakekat kehidupan negara yang anggotanya dalah para sahabat.

Persabahatan universal dapat juga menuntun bentuk persahabatan mutual menjadi suatu persahabatan yang berorientasi pada kepentingan orang lain, dan tidak mementingkan hal saling menguntungkan. “Friendship demands that one wish a friend good things for his sake," kata Aristoteles dalam Nichomacehan Ethics VIII.2. For his sake, berarti suatu sikap yang keluar dari mementingkan diri menuju ke arah mementingkan orang lain.

Persahabatan ini membuat suatu rasa aman bersama sebagai polis, bukan sebagai individu atau kelompok. Rasa aman yang tercipta bukan lahir dari saling ketakutan, maka dari itu saling melindungi, seperti terungkap dalam jargon politik Julius Caesar si vis pacem, para bellum (jika engkau mau damai, siapkanlah perang).

Keamanan di sini bukan lahir dari rasa takut, tetapi dari kemauan untuk saling memberikan yang terbaik demi sahabat itu sendiri. Akhirnya, persahabatan universal mengajak kita untuk mendobrak garis pemisah antara sahabat dan lawan, karena persahabatan universal adalah persahabatan yang mencakup suatu langkah raksasa, yakni, menjadikan lawan sebagai sahabat atau dalam istilah elegan to love the enemy. Di sinilah letak kekuatan sekaligus keindahan persahabatan universal.

Civic friendship bukan hal yang secara hakiki buruk, tetapi memiliki kelemahan yang signifikan, maka universal friendship amat perlu hadir sebagai suatu redemptive quality. Nama bagi universal friendship ini adalah agape. Maka, di tengah semaraknya dinamika demokrasi ini, sebagai bangsa yang beradab mari kita ber-agape!

Benny Phang
Pemerhati masalah etika, tinggal di Washington, DC

No comments: